Sunday, March 29, 2020

Traveler Season 2

Yass, acara Traveler balik lagi. Setelah sebelumnya di season 1 kita menonton perjalanan Ryu Jun Yeol dan Lee Je Hoon berkelana di Cuba (bagus banget!!!). Seru banget melihat mereka berdua traveling di suatu negara yang mereka bahkan gak bisa bahasanya. Cuma modal kamus sama berani-berani ngomong aja. Beberapa kali dapat penginepan yang zonk, balada nyari wifi, ngantri kartu perdana berjam-jam, dan yang paling kocak adalah traveling sendiri-sendiri lalu janjian di alun-alun tapi gak kunjung ketemu-ketemu.

Di season 2 kali ini, Traveler mengajak Kang Ha Neul (yes), Ahn Jae Hong (yes), dan Ong Seong Wu (gak kenal, tapi jelas ganteng). The more the merrier! Di Traveler season 2 ini mereka bertiga dapat kesempatan untuk mengunjungi negara Argentina! Lagi-lagi gak ada juga yang bisa bahasa daerah setempat, bahasa Inggris pas-pasan, tapi nyatanya modal satu dua kata bisa tuh membawa mereka untuk ke penginapan dan juga tempat wisata di berbagai kota di Argentina.

Acara-acara traveling seperti ini selalu jadi acara tv favorit gw. (Indonesia needs more show likes MTMA!!!) Seru aja lihat orang-orang jalan-jalan ke tempat baru terutama ke tempat-tempat yang bukan biasa turis kunjungi sambil melihat kehidupan warga lokal di sana. What is better than the last season? Penginapan di Argentina secara garis besar lebih bagus dan bersih yah. Kalau di Cuba sepertinya kebanyakan model homestay / wisma, sedangkan di Argentina mereka bisa menginap di hotel.

Kalau soal makanan kayaknya variatif yah. Di season 2 ini, 2 episode pertama saja mereka makan steak terus dan daging-daging yang wow bikin ngeces. Sayangnya di acara Traveler ini mereka gak kasih keterangan nama tempat, alamat, dan harga makanan yang mereka pesan secara detail. Yang jelas tiap kali adegan makan, pasti bikin ngiler, apalagi 3 orang ini terutama Kang Ha Neul bawel dan ekspresif banget. Kocak. Dan....sepertinya kemana pun orang Korea pergi, selalu aja mereka makan kimchi, entah bawa sendiri, entah beli di sana, entah gimana ada juga yang ngasih mereka.

Tempat wisata dan kegiatan yang mereka lakukan di season 2 lebih seperti turis normalnya sih. Mereka pergi skydiving yang pasti gak murah, city tour, Iguaza waterfall (mesmerizing!), gletser di bawah kaki Pegunungan Andes (lebih wow lagi macam CG), dan masih banyak lagi (karena di VIU baru sampai episode 6 saat tulisan ini dibuat).



Cast yang dipilih untuk season 2 sangat memuaskan (in my opinion). Selain ganteng, mereka juga punya kepribadian yang beda-beda jadinya kocak liatnya pas digabung jadi satu. Kang Ha Neul yang wujudnya seperti laki-laki ganteng bersahaja tapi aslinya koplak. Ideal type of husband wkwkkw. Not really fashionable waktu jalan-jalan, cuma pake kaos kayak kaos rumah, celana kayak celana rumah, asal campur aja yang penting nyaman. Uda gitu kerjanya cengengesan mulu. Ahn Jae Hong, yang keliatan paling dewasa dan kayak ngayomin adek-adeknya di sini. Kesannya kayak orang yang kaku dan gak mau nyoba hal-hal ekstrim, tapi ternyata gak begitu. Tampak paling fashionable juga entah kenapa. Ideal type of older brother. Ong Seong Wu (oh ternyata dia idol, dari grup Wanna One - tapi udah bubar...yah) adalah cast yang paling muda. Doi bawa kamera kemana-mana dan suka foto-foto, sangat ingin skydiving (akhirnya terwujud), orangnya kesannya pendiem tapi ternyata gak juga. Dia mau aja diajak main-main dan banyol-banyolan sama dua orang cast lain yang lebih tua dari dia. Ideal type of younger brother.

Sudah mulai penasaran kah? Ayo-ayo mumpung lagi masa karantina begini, untuk menjaga pikiran tetap waras, mendingan nonton acara Traveler Season 2 ini. Badan kita boleh terpenjara di rumah, tapi mata dan pikiran bisa berkelana ke Argentina bersama para jejaka!

Tuesday, March 24, 2020

Review Film Door Lock

Door Lock adalah sebuah film remake dari sebuah film Spanyol keluaran tahun 2011 dengan judul Sleep Tight. Film Door Lock ini rilis di tahun 2018 dan dibintangi oleh aktris kawakan Gong Hyo Jin. Film ini bergenre thriller, sebuah film yang menjanjikan karena aktrisnya beliau yang sudah terkenal dengan drama-drama serinya yang selalu bagus.


It's a simple movie dan mungkin perempuan-perempuan yang tinggal di Korea lebih bisa memahami posisi si pemeran utama wanita di film ini. Jadi film ini menceritakan Kyung Min (Gong Hyo Jin) yang bekerja sebagai petugas bank dan tinggal di apartemen one room.  Dia merasa ada orang yang berusaha masuk ke kamar apartemennya karena penutup kunci otomatis pintu kamarnya dalam posisi terbuka. Ada satu malam ketika tiba-tiba pintunya ada yang gedor dan orang di luar tersebut mencoba membuka pintu (gagang pintunya digerak-gerakin terus, horor sih ini!).

Di Korea sepertinya banyak yah perempuan yang tinggal sendiri di apartemen. Gedung-gedung tinggi, lorong-lorong panjang, naik lift sendirian malam-malam. Kayaknya banyak juga deh kasus-kasus cewe-cewe diikuti sama orang sampai ke kamar apartemennya. Ada tuh kan satu video cctv yang kayak popular banget di media sosial. Kalau di Indonesia banyakan orang ngekos yah dan kalau kosan kan biasa antar penghuninya masih saling sapa saling kenal dan daerahnya biasanya ramai gak lorong-lorong panjang gelap.

Mencekam dari Awal

Yap film ini memberikan suasana mencekam dari awal dengan warna film yang gelap (bahkan gw sampai mesti naikin kecerahan layar komputer supaya bisa nonton dengan jelas, tapi tetap saja memang gelap). Buat yang gampang jantungan, hati-hati, suara latarnya itu loh yang bikin orang kagetan. 

Cerita-cerita begini kayaknya udah banyak sih diangkat jadi film, jadi sebenarnya gak ada yang baru-baru banget. Tapi kalau kamu cewe dan nonton film ini kayaknya lebih greget. Kenapa? Soalnya kita pasti pernah kan merasa takut kalau jalan pulang malam-malam, kayak takut ada yang ngikutin. Terus kadang parno sendiri kalau ada yang ngetuk pintu kamar malam-malam, apalagi kalau di Indo kamar kosan kan gak ada lubang pengintip di pintunya, jadi mau gak mau mesti buka jendela atau modal suara nanya. 

Di film ini kita diajak menerka-nerka siapa sih pelaku sebenarnya. Ada beberapa adegan yang menceritakan si pelaku itu seperti punya master key yang bisa buka pintu-pintu apartemen secara otomatis tanpa memasukkan kode. Yang bikin makin merinding adalah itu orang tinggal di dalam apertemennya cewe itu, pakai kamar mandinya terus tidur di ranjangnya........hiii

Ada yang Kurang

Film ini durasinya agak panjang tapi entah kenapa seperti ada yang kurang tapi apa yah. Secara akting pemeran-pemerannya sih gak ada yang perlu diragukan yah. Meyakinkan semua, bikin saya ikut-ikutan cemas nontonnya. 

Peran utamanya diceritakan sebagai seseorang yang introvert, pemalu, bukan orang yang vokal gitu, gampang ketakutan. Jadi apakah wajar yah ketika kita yang ada di posisi dia kita juga akan berakhir melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dan akan selamban itu menghadapi situasi-situasi tersebut. 

Beberapa adegan juga ada yang kayak kurang masuk akal lah ya, terutama yang bagian dia menemukan tempat persembunyian si pelaku. Agak kurang gimana gitu.

Kasus-kasus stalker kadang suka dianggap remeh yah. Saya sih belum pernah harus berurusan dengan hal-hal demikian apalagi sampai perlu melaporkan ke polisi. Di sini tampak polisi awalnya tidak menganggap serius pengaduan pemeran utama yang bilang kalau ada orang yang berusaha masuk ke apartemennya. Alasannya yah karena gak ada bukti dan gak ada tanda pengrusakan baik di pintu maupun di kunci pintunya. Yah begitulah yah.... kayaknya memang polisi punya kriteria masing-masing mana kasus yang bisa langsung dilakukan penyidikan mana yang masih harus tunggu. 

Oh ya, kenapa gw bilang ada yang kurang dari film ini? Mungkin karena gw kerap membandingkan dengan peran Gong Hyo Jin di drama terakhirnya yang gw tonton, yaitu When Camellia Blooms. Mirip lah di situ ceritanya ada serial killer gitu yang tertarik sama dia, tapi di sana karakternya lebih bagus daripada di film Door Lock ini. Makanya sebagai perempuan gw lebih suka dia di film drama itu. 

Adegan yang Paling Bikin Merinding (Spoiler)

Adegan yang paling sukses bikin merinding adalah ketika si pemeran perempuan masang CCTV di kamar apartemennya. Jadi dia duduk di ranjang terus penasaran dia tonton isi video CCTV hari itu. Di video itu dia lihat pelaku membuka pintu kamarnya, lalu masuk berjalan ke arah ranjang, dan kemudian menunduk dan menyelinap di kolong ranjang........HIIIIIIII terka sendiri adegan selanjutnya, tonton sendiri aja.

Gak bisa kita pungkiri memang banyak orang-orang yang obsessed dan agak waras di dunia ini, yang berpikir kalau orang lain tuh bisa jadi propertinya mereka. Beberapa pelaku menganggap diperlakukan gak adil sama dunia atau dia merasa orang-orang gak memperhatikan dia karena dia orang kecil / miskin. Rasa sakit hati ini yang terkadang di beberapa orang memicu perilaku-perilaku gak sehat yang gak bisa dinalar pake logika. 

Jadi.....berhati-hatilah selalu yah. Waspada selalu. Terkadang di tempat yang kita rasa aman (contoh aja kamar kita sendiri) ternyata gak seaman itu he he he he.

Monday, March 23, 2020

Cerita Film Kim Ji Young Born 1982

Film Kim Ji Young Born 1982 sudah ada di Viu teman-teman! Sebelumnya gw sudah menonton film ini tapi subtitlenya kacau, akhirnya nonton lagi deh. Ini film hits banget di Korea Selatan, banyak menuai pro dan kontra. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama, karangan Cho Nam Ju, yang sebelumnya juga banyak ditentang karena membahas isu-isu feminisme.

Yah sepertinya tidak perlu jauh-jauh menilai kehidupan di Korea Selatan, di bumi Indonesia tercinta ini kata-kata "perempuan itu tugasnya ngurus rumah, ngurus dapur, dan ngurus anak" masih kerap kali kita dengar. 

Deksripsi Kehidupan Perempuan Tanpa Banyak Drama

Film ini ibaratnya penelitian deskriptif, isinya deskripsi kehidupan perempuan, tanpa banyak drama dan konflik yang perlu dipecahkan. Jadi saat menonton film ini jangan mengharapkan ada sensasi naik roller coaster seperti lagi nonton film thriller atau action. Ceritanya mengalir saja, menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari Kim Ji Young yang diperankan oleh Jung Yu Mi serta interaksinya dengan suami (Gong Yoo), keluarganya, keluarga suaminya, dan orang-orang lain di sekitarnya. 

Adegan-adegan yang muncul di film ini mungkin bisa membuat kamu teringat dengan kejadian-kejadian dalam hidup kamu. Sangat realistis sekali digambarkan. Misalnya saat Kim Ji Young lagi duduk-duduk di taman, lalu ada sekelompok karyawan lagi mengobrol sambil minum kopi. Di sana ada seorang karyawan laki-laki berkata seperti ini "Enak yah jadi ibu rumah tangga, bisa santai-santai, tinggal ngandelin gaji suami aja". Kim Ji Young saat itu tidak sengaja mendengar, memang sih karyawan itu bukan maksud mengejek dia sebab ada banyak ibu-ibu lain yang juga sedang duduk-duduk di sana. Tapi Kim Ji Young saat itu seperti "tersentil" dan beranjak dari tempat dia duduk.

Kalau kamu sudah nonton trailer film ini, mungkin kamu ingat atau bahkan kamu yang sudah berkeluarga juga mengalaminya, interaksi dengan mertua. Yap, mertua adalah seseorang yang cukup "ditakuti" dan menjadi momok bagi perempuan ketika mau memulai hidup berkeluarga. Menikah itu bukan cuman mengikat kamu dan suamimu, tapi juga dengan keluarganya. Bagaimana pun juga ibu suamimu itu kan tetap "orang lain" dan kerap kali asing buat kamu. Suaminya Kim Ji Young adalah anak laki-laki satu-satunya (ada saudara perempuan) dan di Korea Selatan anak laki-laki masih jadi primadona di keluarga yang seakan-akan punya posisi yang lebih tinggi dari anak perempuan. Tidak jarang ketika menikah, ibu mertua model begitu menganggap bahwa perempuan yang menikahi anaknya seperti "merebut" anak laki-lakinya dari dia dan selalu merasa menantunya itu "really lucky to have his son."

Pada adegan dalam trailer tersebut diceritakan, Kim Ji Young harus membantu menyiapkan makanan (dari subuh) untuk keluarga suaminya karena saat itu sedang tahun baruan jadi semua anak-anak kumpul. Ibu mertua juga menyuruh Kim Ji Young untuk mencuci piring-piring kotor dan setumpuk alat masak. Saat Gong Yoo mau bantu, ibu mertua malah bilang "wah anak gw modern husband banget, enak banget punya suami kayak gitu" seakan-akan menganggap anaknya kebaikan banget ngerjain tugas istri. Lalu saat ada anak perempuannya datang, mau bantu-bantu malah disuruh istirahat karena katanya "Lu kan udah cape kerja di tempat mertua lu." Di sini lah lu akan mulai melihat Kim Ji Young yang berbeda.

Peran Perempuan bagi Perempuan Lain

Dalam film ini banyak sekali ditampilkan bagaimana peran perempuan bagi perempuan lain. Adegan kumpul-kumpul ibu-ibu yang anaknya satu sekolah dengan anak Kim Ji Young saja sudah pasti akrab dengan kehidupan ibu-ibu sehari-hari. Di sana mereka saling bercerita bagaimana masing-masing dari mereka sebelumnya sekolah tinggi dan punya karir yang mereka senangi. Ada satu ibu yang kuliah di universitas ternama di Seoul, temannya bercanda, kuliah tinggi-tinggi cuma buat ngajarin anaknya perkalian. Yah saling bercerita lah, melepas penat mengurus rumah.

Kim Ji Young ini dulunya juga wanita karir. Dia kuliah sastra Korea, tapi bekerja di perusahan marketing dan bercita-cita mau jadi penulis. Di tempat kerjanya juga dia berhadapan dengan diskriminasi gender seperti misalnya: susah dapat kenaikan jabatan, tidak diikutsertakan dalam tim karena ditakutkan akan cuti lama untuk hamil dan melahirkan. Bahkan salah satu karyawan perempuan yang senior di sana, masih kena bully soal gender oleh karyawan lain yang laki-laki. Diceritakan anak team leader perempuan itu sudah  masuk SMA dan dari kecil karena dia kerja anaknya diurus sama mamanya. Hal ini lalu ditanggapi oleh karyawan pria: "Wah kalau SMA lagi badung-badungnya. Anak yang gak diurus sendiri ama mamanya biasanya jadi pembangkang loh. Siapa yang peduli kalau lu sukses tapi anak lu jadi begajulan." Lalu apakah team leader perempuan itu lantas mundur dari kerjaannya? No no no...di film ini diceritakan malah dia buka perusahaan baru di mana dia yang jadi bosnya (karena di perusahaan lama jabatan dia gak naik-naik...lagi-lagi karena dia perempuan). Dia kemudian juga menawarkan Kim Ji Young untuk kembali bekerja di perusahaan barunya tersebut.

Cerita lain yang berkesan di film ini adalah ketika Kim Ji Young masih remaja, lalu di atas bus ada satu anak laki-laki sepertinya stalkernya dia. Di atas bus itu dia ketakutan sekali tapi gak bisa ngomong atau teriak karena kan laki-lakinya juga gak ngapa-ngapain. Ada seorang ibu yang duduk di hadapan Kim Ji Young, dia memperhatikan gerak geriknya kok kayak gelisah, dia pun sempat bertanya pada Ji Young "Lu kenapa, baik-baik aja?" Akhirnya Ji Young memberi kode ke perempuan itu untuk meminjam telepon genggamnya. Menggunakan telepon genggam itu Ji Young mengetik pesan buat bapaknya lekas jemput di halte bus. Akhirnya tiba di perhentian bus, Ji Young turun, laki-laki itu pun mengikuti dia dan sudah manggil dia untuk berhenti. Tidak lama bus berhenti lagi dan ibu-ibu yang tadi kasih pinjam hpnya itu turun manggil-manggil Ji Young, dia bilang ada barang ketinggalan (mungkin dia baca pesannya Ji Young ke bapaknya tadi). Laki-laki itu pun kabur. Di adegan itu gw merasa yah di saat perempuan susah itu terkadang yang bisa mengerti yah kita yang sama-sama perempuan. Kita harus saling peduli dan menolong.

Sebab kelanjutan adegan itu, bapaknya Ji Young datang dan mendengar ceritanya langsung dari Ji Young. Bukan malah emosi sama cowo yang ngikutin anaknya, malah dia nyalahin anaknya "Lu jangan pake rok pendek, jangan senyum-senyum sembarangan, kalau sampai kejadian apa-apa berarti salah lu-nya gak bisa menghindar." Hadeuh.

Isu Kesehatan Mental

Film ini juga mengangkat isu kesehatan mental. Di awal-awal film kita lihat Gong Yoo lagi ke psikiater sambil menunjukkan sebuah video ke dokter. Gw pikir paling masalahnya si Kim Ji Young depresi atau self harm gitu yah. Tapi ternyata yang tampil dalam film ini adalah dissociative identity disorder atau sering disebut multiple personality / kepribadian ganda. Nanti akan ditunjukkan bagaimana Ji Young akan bicara selayaknya orang lain, terutama dalam situasi di bawah tekanan. Kim Ji Young mulai berbicara seperti neneknya yang sudah mati (di adegan itu dia panggil ibunya sendiri dengan nama langsung dan menasehati ibunya untuk jangan terus berkorban buat orang lain, uda cukup ngorbanin masa muda dan cita-cita lu buat ngidupin sodara2 cowo lu. sedih sih ini), lalu bahkan menjelma jadi ibunya sendiri saat main sama anaknya (ini yang divideokan oleh Gong Yoo), dan jadi temennya yang udah meninggal. Setiap kali dia menjelma jadi orang lain itu Ji Young gak sadar dan kemudian akan lupa sama hal-hal yang dia kerjakan saat dia sedang dalam identitas yang lain. 

Kamu bisa lihat di film ini gimana perkembangan Kim Ji Young dari awalnya yang passionate dengan kerjaan, punya cita-cita, kemudian jadi ibu rumah tangga, tuntutan dari mertua untuk jadi istri yang ideal, keinginan untuk kembali bekerja tapi dia gak yakin dengan suaminya benar-benar setuju atau hanya manis di depan doang, sampai akhirnya suaminya nyadarin kalau dia sakit. Di awal hingga tengah film itu kita disuguhkan dengan Kim Ji Young yang macam empty shell, kayak bunga layu, pucet, begitu-begitu aja dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Gong Yoo digambarkan seperti suami ideal yang sayang sama istrinya dan setidaknya dia yang pertama menyadari kalau istrinya sakit. Dari awal dia sudah sering menanyakan "Lu baik-baik saja?", berulang kali sih sepertinya dia khawatir dengan kondisi istrinya. Ada satu kali Ji Young curhat, "Gw kayak gampang marah dan kesel sama semua hal akhir-akhir ini" yang kemudian ditanggapi suami, "Gak itu gak aneh kok, wajar klo orang marah." 

Tapi di beberapa adegan pun digambarkan Gong Yoo sebagai anak yang gak bisa lepas juga dari kendali mamanya, gak bisa juga dia nentang mamanya untuk membela istrinya (yaiya lah yah), dan hal itu wajar sekali. Kebayang kan gimana si Gong Yoo harus menghadapi mamanya yang begitu dan ngadepin istrinya yang lagi butuh bantuan. Ada saat-saat tertentu juga, yang mana mungkin karena pengaruh teman-teman kerjanya yang mostly laki-laki, dia sempat bilang waktu mau ambil cuti "paternal leave": "Ya gw cuti aja paternal leave, biar kalau lu mau kerja, gw bisa istirahat di rumah jaga anak". Di situ Ji Young langsung nyamber "Jaga anak itu bukan istirahat."

Setidaknya film ini berakhir pada Ji Young yang ke psikater dan mulai konseling, memulai karir baru, dan suaminya yang cuti dan gantian mengurus anak sementara waktu. Paling tidak film ini menampilkan sisi lain lah, bahwa bisa loh wanita yang kerja, pria yang ngurus rumah tangga. Gak saklek tuh wanita yang nyuci piring, nyuci baju, ngepel nyapu, sementara prianya di rumah tinggal leyeh-leyeh karena sudah kerja di kantor dan menghasilkan uang. Di film ini Gong Yoo ada bantu-bantu ngurus anak sedikit-sedikit, walaupun yah mostly tetap Ji Young yang kerja. Wajar sih film ini dapat kritik pedas dari laki-laki di Korea Selatan, mungkin di sana modelnya cowo itu yah seperti di gambaran film ini, lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan. Makanya ketika ditampilkan hal yang sebaliknya jadi murka lah mereka. 

Film ini betul-betul hanya bercerita, penonton boleh menilai apa saja. Film ini tidak menghakimi siapapun dan apa yang ditampilkan dalam film ini adalah sesuatu yang umum kita temukan di kehidupan sehari-hari. Perempuan yang kalau berkarir kemudian tidak menikah disebut perawan tua. Perempuan yang karirnya bagus dianggap tidak mampu mengurus keluarga dengan baik. Perempuan yang menikahi anak laki-lakinya dianggap sebagai "perebut" dan saingan sama mertua. Perempuan yang peluang karirnya dibatasi sama "nanti kan mesti hamil dan lahiran".

Karakter Favorit dan Adegan Favorit

Karakter favorit gw adalah mamanya Kim Ji Young. Dia kelihatan sekali berusaha menerapkan kalau anak laki-laki sama perempuan tuh sama. Hal ini nurun ke anak pertamanya (kakak perempuan Kim Ji Young) yang sepertinya rada tomboy dan gak mau disuruh-suruh ngerjain kerjaan rumah tangga doang. Mamanya Kim Ji Young nih marah besar sama suaminya pas tahu kalau suaminya pulang bawa suplemen satu dus cuma buat anak laki-lakinya. Dia bilang "Emangnya anak perempuan gak bisa sakit?" Karakter favorit lain adalah kakak perempuannya Kim Ji Young, dia gokil sih hahahaha nonton aja sendiri deh. Dari kecil aja uda savage cara ngomongnya.

Adegan favorit gw adalah saat Ji Young kecil ngobrol sama mamanya. Mamanya Ji Young bilang dia dulu yang paling pintar di antara saudara-saudaranya (laki-laki) dan dia bercita-cita jadi guru. Tapi dia mesti kerja jadi buruh jahit di pabrik buat bisa nyekolahin tinggi saudara-saudaranya. Terus Ji Young tanya "Terus kenapa mama gak jadi guru aja sekarang?" Mamanya jawab, "Karena sekarang uda punya anak, jadi harus ngurus kalian." Jawab Ji Young "Jadi mama gak bisa jadi guru karena aku?"

Banyak teman-teman perempuan di luar sana yang menyerukan kesetaraan gender, tapi kemudian mendapatkan serangan dari laki-laki dan bahkan sama sesama perempuan (ini yang gw gak habis pikir sih). "Kalau ganti galon atau ganti tabung gas jangan suruh laki-laki kalau mau disetarakan" atau "Yah kalau kompetensinya beda masa mau sama gajinya" atau "Kalau perempuannya cuti hamil laki-laki juga dong harusnya" .......hmmmmm kalau semuanya dibalik gimana "Kalau gitu situ yang ngangkang di tempat tidur terus ngeden keluarin bayi 3 kg dari kemaluannya" atau "Kalau gitu situ yang nyuci, ngepel, gosok, nyikat kamar mandi, belanja ke pasar". Debat yang gak akan ada habisnya.

Kalau menurut saya sih laki-laki dan perempuan itu tugasnya saling melengkapi, tidak ada yang superior tidak ada yang inferior. Ada hal-hal yang bisa dikerjakan oleh perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki juga boleh kok handal mengerjakannya. Begitu juga sebaliknya. Hargailah setiap orang apapun pekerjaannya. Semua pekerjaan itu pasti ada capeknya, orang nunggu aja capek kok. Ya gak? Semoga suatu hari nanti gak ada lagi kalimat "Kamu seharusnya terlahir sebagai seorang laki-laki."

Sunday, March 22, 2020

Vaksin Corona Virus Covid-19 Sudah Ditemukan?



Setelah beberapa bulan gak menulis di blog ini, entah kenapa gatel banget rasanya kalau gak komen soal komentar-komentar orang di Line Today. Siapa sangka tahun 2020 ini diisi dengan berbagai bencana dari mulai banjir sampai dengan pandemi Covid-19. 

Masyarakat Indonesia yang budiman, ternyata masih ada yang kurang paham mengenai vaksin. Padahal vaksinasi itu sudah ada programnya loh di Indonesia, yakni Program Imunisasi Dasar Lengkap, gratis pula. Jangan mentang-mentang gratis terus jadi gak peduli apa yang disuntik atau ditetesin ke dalam tubuh kita. 

Nah, banyak orang-orang di atas itu berkomentar "Kenapa gak diuji coba ke orang-orang yang sudah positif saja?" Begini pemirsa, tujuan vaksin pada hakikatnya adalah untuk mencegah suatu penyakit. Kalau kata netizen lain "vaksin itu untuk mencegah, bukan untuk mengobati". Ya betul itu. Vaksin itu bisa berisikan:
  • Kuman (virus atau bakteri) yang dilemahkan (live-attenuated)
  • Kuman yang tidak aktif aka sudah keok dia
  • Sebagian struktur kuman, dipretelin dah tuh kuman dijadikan vaksin
  • Toxoid - menyerupai toksin (kayak racun gitu deh) yang diproduksi biasanya oleh bakteri
Vaksin itu diberikan supaya terjadi imunisasi, yakni proses pembentukan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Nah pemberian vaksin itu adalah salah satu bentuk imunisasi aktif. Jadi dikasih vaksin supaya tubuh membentuk kekebalan tubuh (sebut aja antibodi lah) secara mandiri yang spesifik terhadap kuman / toksoid yang terkandung dalam vaksin tersebut. Ada lagi namanya imunisasi pasif, nah ini yang dimasukin tuh biasanya imunoglobulin (sebut juga antibodi lah) langsung, jadi kayak nyewa tentara dari luar, biasanya sifatnya hanya sementara (namanya juga nyewa). Pemberian imunisasi pasif ini biasanya disertai juga pemberian vaksin sebagai imunisasi aktif, jadi sambil nunggu kekebalan tubuh sendiri berespon sempurna (butuh waktu bervariasi, ada yang 1 minggu, 2 minggu, dsb) dari pemberian vaksin, ada tentara tambahan yang melindungi dari penyakit di periode itu. 

Nah di komentar ini, beberapa netizen yang lumayan paham tentang vaksin jadi emosi dengan komentar "kenapa gak ambil sampel atau teliti dari pasien yang sudah ada?" Kembali lagi, vaksin itu tujuannya untuk mencegah seseorang untuk terkena suatu penyakit atau bisa juga tetap terinfeksi tapi gak menjadi sakit berat sampe modar meninggal. Vaksin itu yah prioritasnya diberikan ke orang sehat. Kenapa? Karena orang sehat yang diharapkan memberi respon pembentukan kekebalan tubuh yang optimal terhadap vaksin yang diberikan. Itu kenapa kalau Anda baca kontraindikasi vaksin ada yang tulisannya: gak boleh kalau lagi demam, kejang, penyakit akut. Vaksin yang live attenuated kontraindikasi diberikan ke pasien yang punya penyakit yang buat imunitas tubuhnya jadi lemah, pasien yang terapi imunosupresan (misalnya abis transplantasi organ), atau pasien-pasien dengan penyakit berat. Yah namanya juga vaksinnya isinya kuman yang dilemahkan, kalau di orang sehat akan timbul respon imun yang bener, kalau dimasukin ke orang sakit (yang imunitasnya lemah gak bisa respon bener) kuman yang biarpun udah lemah ini bisa nimbulin penyakit yang sesungguhnya di mereka.  

Oke setelah kita mengerti apa itu vaksin, mari kita lanjut ke bahasan berikutnya. Apakah vaksin corona virus aka SARS-CoV-2 si penyebab penyakit Covid-19 sudah ditemukan? Jawabannya adalah iya uda, tapi masih diuji coba. Tahu gak berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai sebuah vaksin bisa direlease ke publik dan diklaim sebagai vaksin suatu penyakit. Bertahun-tahun ciiin. Itu vaksin ye mesti di tes bertahap, bertingkat dengan sampel yang banyak. Gunanya apa sih tes tes mulu gak ada abisnya, buruan aja sih udah gak sabar niii. Yailah, gunanya yah biar yakin kalau vaksin itu EFEKTIF dan AMAN untuk diberikan ke manusia. Bukan cuman 1 manusia tapi ke semua manusia yang akan mendapatkan vaksin itu. Eh gw jadi keingetan si akar bajakah....kemana tuh dia?

Begini gambaran kasarnya, sekarang ini (saat tulisan ini dibuat) ada 3 negara yang mengumumkan secara resmi telah memulai uji coba vaksin untuk Covid-19, yakni negara China, Amerika Serikat, dan juga United Kingdom. Uji coba ini yang dimuat di media adalah yang disuntikkan ke manusia langsung. Tentunya setelah disuntikkan subjek (apa subyek sih) akan diamati, yah biasanya dicek respon imunitas spesifiknya terhadap si virus, bisa per hari atau bisa juga di hari ke sekian. Lalu dicatat juga reaksi apa saja yang dirasakan atau muncul pada pasien, terkait efek samping. Apakah di akhir pengamatan ditemukan peningkatan antibodi yang sesuai yang diharapkan mampu melindungi dia dari infeksi Sars-cov-2 benerannya yang dari luar? Berapa hari sih yang dibutuhkan sampai terbentuk antibodi yang cukup? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus dijawab dari penelitian itu. Itu aja baru di satu orang, bayangkan berapa banyak orang yang harus diuji coba, sampai masuk kategori vaksin ini layak diberikan ke semua orang. 

Manusia kan beda-beda, jadi subjek penelitian juga harus punya karakteristik yang bisa mewakili seluruh populasi. Belum tentu sama responnya, padahal harusnya kalau memang sudah dijual - dipasarkan, itu vaksin harus bisa menimbulkan respon imunitas yang "sama" di semua orang (yang walaupun karakteristik orangnya berbeda). Repot dan gak sesimpel yang netizen bayangkan. Gak semudah nyeduh popmie instan nunggu 3 menit udah jadi. Gak semudah akar bajakah yang langsung laris manis.....oops

Jadi vaksin buat Covid-19 sudah ditemukan belum? Lah nanya lagi, kan dibilang udah ada yang nemuin tapi masih diteliti layak gak diberikan buat manusia, efektif gak buat semua orang kebal terhadap covid-19, dan aman gak diberikan ke semua orang, nah itu yang masih belum tahu. Pun kalau sudah ada, harus semua orang sehat divaksin atau paling gak 90% orang divaksin biar suatu daerah terlindungi dan bisa punya herd immunity yakni ikut melindungi teman-teman lain yang gak bisa divaksin. Virus itu kan bisa bereplikasi hanya jika di dalam sel inangnya (dalam hal ini sel tubuh manusia), nah kalau sebagian besar manusianya uda kebal sama ini virus, yah pada keok virusnya gak bisa idup di mana-mana lagi. Jadi gak mustahil kok kalau suatu saat di daerah tertentu penyakit ini punah - hilang sepenuhnya karena pemberian vaksin di orang-orang yang sehat. Yah contoh aja di Amerika Serikat sana gondongan (mumps), campak, dan rubella uda kagak ada tuh. Mungkin bisa gempar kalau sampai menemukan 1 kasus aja di sana. 

Nah susahnya di Indonesia, biarpun vaksin gratis (contoh vaksin campak), nyatanya kasus campak masih ada di Indonesia. Kenapa? Yah cakupannya gak merata, banyak alasannya: masih ada orang yang gak punya transportasi untuk menjangkau fasilitas kesehatan (sedih), masih ada orang yang tidak mengerti apa itu vaksin dan pentingnya vaksin, dan masih ada kaum anti vaksin yang menolak pemberian vaksin karena berbagai alasan yang kadang-kadang tak masuk logika saya (ini yang susah). Yah masih jauh lah yah ini, toh vaksinnya belum dijual bebas. Masih ada cukup waktu buat pikir-pikir "Nanti gw mau divaksin Covid-19 gak yah?"

Nah ini komentar yang terakhir saya tangkap dari diskusi di bawah berita Line Today mengenai vaksin corona virus. Silahkan Anda-Anda saja yang komentar. 

Monday, December 9, 2019

Menginap di Rumah Larasati

Apa? Menginap di rumah Dara? Bukan-bukan, ini bukan Rumah Dara yang film horor itu. Ini Rumah Larasati, sebuah hostel / penginapan di Kota Malang. Letak persisnya di Jalan Semangka (rumah di posisi hoek) dan bisa dicari di google maps. Gang penginapannya agak kecil tapi masih bisa dilalui mobil. Hanya saja kalau malam hari ada STMJ di sekitaran gang sana jadi susah masuk mobil dari arah tersebut.

Apa kelebihan menginap di Rumah Larasati? Kalau kamu solo traveller, mau cari penginapan murah-murah tapi gak mau bobok sendirian di ruangan yang besar, kamu bisa pilih nginap di sini. Model kamarnya gabung gitu dengan ranjang tingkat. Per bed dihargai 66 ribu - 75 ribu yang bisa kamu reservasi menggunakan aplikasi perjalanan online. Saat kamu datang kamu akan dijelaskan singkat tata cara menginap di sini. Oh ya, jangan lupa untuk buka sendal atau sepatu kamu dan letakkan di rak yang sudah disediakan lalu ganti alas kaki bersih yang khusus untuk di dalam rumah.

Resepsionis akan minta KTP kamu (standar kayak menginap di hotel lain) untuk konfirmasi data reservasi. Lalu kamu akan dikasih sebuah kunci kamar dan juga kunci loker. Setiap orang yang menginap akan mendapat sebuah loker untuk menyimpan barang-barang. Lokernya terletak di area kamar mandi. Loker yang tersedia muat dua backpack atau satu backpack besar / tas travel tenteng yang tidak begitu lebar. Kalau bawa koper kemari bisa-bisa aja, kamu taruh kopermu di kamar, kemudian barang berharga bisa diletakkan di loker. Ada 4 jenis kamar di Rumah Larasati. Saya pilih yang khusus perempuan isi 6 bed (3 ranjang tingkat), tapi ternyata saya dapat bed yang terpisah lagi ada pintunya dengan ruangan yang berisi 4 bed, alhasil berasa kamar pribadi juga, karena waktu itu di kamar itu hanya saya yang menginap di ruangan itu.
  
Masing-masing kamar sudah dilengkapi dengan AC, walaupun hanya sesekali saya nyalakan karena udara Malang sedang dingin saat itu. Setiap bed, baik bawah maupun atas dilengkapi dengan tirai yang bisa ditutup kalau-kalau kamu merasa risih bobok dilihatin orang. Setiap bed juga dilengkapi dengan gantungan dinding, lampu baca, dan juga colokan. Bantal dan selimut bisa diambil dari loker. Ranjang dan kamar cukup bersih, walaupun menurut saya masih bisa lebih bersih dari itu, karena saya lihat beberapa kabang-kabang di ujung langit-langit kamar/ ranjang. Jangan lupa kalau mengunci kamar jangan ditinggalin kuncinya di pintu, takutnya ada tamu lain yang menginap mau masuk gak bisa hahaha


Kalau kamu orang yang ribet soal mandi atau boker di kamar mandi umum, baiknya sih gak nginep di sini. Karena kamar mandi yang tersedia di Rumah Larasati ini letaknya di luar kamar dan berbagi dengan tamu lainnya. Ada 5 kamar mandi, 2 di antaranya yang punya kloset. Untuk kamar mandi dengan shower ada air hangatnya kok dan enaknya mereka sudah menyediakan shampoo dan sabun cair untuk tamu, sehingga kalau lupa atau sengaja gak bawa bisa pakai dari tempat penginapan ini. Handuk juga sebenarnya bisa minta, tapi saya lebih pilih pakai handuk sendiri, karena jemurnya di tempat yang barengan dan warna handuk tamunya sama semua hahaha, yang ada nanti saya ketuker. Hmmm... untuk masukan aja sih, kalau boleh bisa gak yah di kamar dipasang cermin atau di area kamar mandi begitu. Sebab selama di penginapan ini saya gak lihat ada satupun cermin.... atau..... hahahahaha

Rumah Larasati juga menyediakan tempat duduk-duduk di teras yang cukup luas, di ruang tengah yang berupa lesehan, maupun meja di pinggiran yang dilengkapi colokan untuk masing-masing orang yang duduk, serta ada juga sofa-sofa rotan dengan meja kopinya. Di belakang ada dapur yang bisa kamu pakai, walaupun gak ada tersedia kompor sih seinget saya. Ada dispenser dengan air hangat yang bebas kamu pakai (dengan bijak), ada teh kopi, ada roti beserta margarin dan selai yang bisa kamu ambil untuk makan kapanpun selama menginap.


Rumah Larasati juga menyediakan wifi yang sampai ke semua ruangan menginapnya dan kecepatannya mantap gila. Pokoknya streaming video Youtube 4k gak pakai ngadet punya lah. Penginapan ini nyaman sekali karena tempatnya di area perumahan jadi tidak persis samping jalan raya sehingga gak terlalu bising dibandingkan hostel-hostel lainnya yang mayoritas di samping jalan besar. Selain itu mau cari makan juga gampang banget. Rumah Larasati ini deket banget sama rumah makan Rawon Djenggot yang terkenal itu, semuanya tinggal jalan kaki. Mau makan bakso babi Subur juga bisa jalan kaki. Mau yang lebih banyak lagi tinggal jalan sedikit ke depan udah ketemu sama Jalan Kawi Atas yang merupakan salah satu surga kuliner di Kota Malang.



Jadi buat kamu yang masih bingung mau menginap di mana selama di Malang, kamu bisa cobain menginap di Rumah Larasati. Buat menginap sendiri enak, buat ramai-ramai dengan teman juga boleh. Kalau-kalau kamu bosan menginap di hotel dan mau mencoba pengalaman menginap di hostel dan bertemu / ngobrol dengan orang-orang baru yang ramah-ramah mungkin bisa mencoba menginap di Rumah Larasati.

Friday, August 23, 2019

The Witch : Part 1 The Subversion Review


Film dengan tema manusia mutan hasil percobaan dengan kekuatan super mungkin sudah sering dibuat oleh Hollywood. Tapi untuk Asia sendiri, gila film The Witch ini menurut gw yang terbaik deh. Tema cerita yang terkesan biasa kalau di film Barat dibuat sedemikian rupa dengan bumbu-bumbu drama dan akting memukau aktor-aktor Korea ternama. Film yang disutradarai oleh sutradara Park Hoon Jung ini rilis di tahun 2018. Film The Witch : Part 1 The Subversion mendapat rating 7/10 dari IMDB dan 85% dari Rotten Tomatoes.

Film The Witch : Part 1 The Subversion bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Goo Ja Yoon yang diperankan oleh aktris Kim Da Mi. Entah kenapa di film ini dengan gaya rambutnya yang pendek itu bikin berkali-kali gw mengira dia adalah Kim Go Eun yang main di drama Goblin itu. Si Kim Da Mi ini meranin siswi SMA super pintar dan berprestasi. Dia mendadak jadi terkenal karena tampil di acara pencarian bakat di televisi dengan trik "magic" nerbang-nerbangin microphone. Setelah itu mulai banyak orang-orang yang nyari dia karena "kekuatannya" itu.

Di awal film ini kita lihat ada anak-anak kecil yang dibantai-bantai oleh sekelompok orang berbaju hitam. Nah ternyata Kim Da Mi itu salah satu dari anak-anak percobaan tersebut yang berhasil melarikan diri. Kim Da Mi merupakan salah satu hasil percobaan yang berhasil dan termasuk yang paling hebat kekuatannya dibandingkan anak-anak lain. Tapi karena efek percobaan itu, tubuh Kim Da Mi lama-lama rusak dan dia butuh obat yang dibuat oleh kelompok orang yang menciptakan dia agar bisa bertahan hidup.

Awalnya kita dibuat berpikir kalau Kim Da Mi ini amnesia, sehingga dia gak punya ingatan masa kecil. Tapi, tentu tidak.......hahaha pokoknya nonton dulu, di situ gregetnya. Selain plot cerita yang menarik, maju mundur tapi gak bikin bingung, unsur laga di film ini juga seru banget. Efeknya mantap, soundnya oke, sadis-sadis pembunuhannya juga keren banget lah (walaupun ada beberapa adegan kena sensor kalau di Viu).

Film ini menang banyak karena beberapa hal berikut:

  1. Akting Kim Da Mi yang gila banget. Bisa keliatan sangat kayak anak SMA polos padahal umur pemerannya 24 tahun. Di adegan lain bisa kayak psikopat pembunuh yang dengan muka berlumuran darah bikin bulu kuduk berdiri. Gila banget lah pokoknya.
  2. Akting semua aktor lainnya yang gak kalah bagus
  3. Akting laga yang presisi, penempatan akurat, dan bikin merinding
  4. Durasi filmnya panjang, tapi memang harus segitu untuk bisa menceritakan peran utama yang hidupnya memang berlibet banget. Tapi durasi 2 jam lebih gak berasa banget, apalagi pas sudah pertengahan ke akhir film
Saya merekomendasikan film ini buat kamu yang suka genre film action thriller yang rada-rada sadis tapi pengen yang masih ada plot cerita yang bagus bukan cuma sekedar bacok-bacokan. Film ini bisa kamu tonton di aplikasi Viu dengan subtitle yang oke pastinya. Oh ya, karena ini baru part 1, di akhir film endingnya ada kelanjutannya buat part berikutnya dengan kemunculan tokoh baru. Makin penasaran bagaimana kelanjutan hidupnya Goo Ja Yoon di sekuelnya nanti. Yuk nonton dulu part 1 film The Witch ini!

Thursday, August 22, 2019

Jadikan Asuransi Pendidikan Prioritas Keluarga Anda

Hanya sedikit orang yang masih beranggapan bahwa tanpa bersekolah tinggi pun seseorang mampu meraih suksesnya. Di jaman milenial ini tidak dapat dipungkiri, orang dengan pendidikan tinggi memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang baik dan peluang sukses lebih besar. Pendidikan merupakan salah satu investasi jangka panjang bagi masa depan anak dan sudah seharusnya menjadi prioritas dalam keluarga. Ketika anak kita lahir, pendidikan pasti sudah menjadi kebutuhan dasar selain dari pangan, sandang, dan papan. Perencanaan dana pendidikan yang baik perlu dilakukan sejak dini.

Pendidikan yang bermutu tinggi tentunya tidaklah murah. Sekolah dengan sistem pengajaran yang baik dan fasilitas yang lengkap harganya pasti relatif mahal. Sama halnya seperti harga properti, semakin lama harga pendidikan pun semakin meningkat dan hampir tidak pernah turun. Sebut saja salah satu jurusan favorit misalnya kedokteran, orang tua harus merogoh kocek puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah untuk menempatkan anak di universitas ternama.

Pendidikan yang tinggi memakan waktu yang lama. Hitung saja 2 tahun di taman kanak-kanak, 6 tahun di sekolah dasar, 3 tahun di sekolah menengah pertama, 3 tahun sekolah menengah atas, kuliah S1 4 tahun, belum lagi kalau mau tambah sekolah S2 1-2 tahun lagi. Sekitar 19-20 tahun dibutuhkan untuk bisa menamatkan itu semua. Kalau mau dihitung biaya yang dikeluarkan, pastinya tidak sedikit. Belum lagi kebutuhan anak selama pendidikan di luar uang pangkal dan iuran bulanan atau semesteran seperti misalnya uang seragam, buku, study tour, dan lain sebagainya. Mulai pusing? Ya, salah perhitungan bisa saja membuat Anda berhutang sana sini untuk mampu menyekolahkan anak.

Asuransi Pendidikan vs Tabungan Pendidikan

Selain asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, ada yang dinamakan asuransi pendidikan. Sebagian orang mungkin belum begitu mengenal asuransi pendidikan. Apa bedanya dengan tabungan pendidikan dan investasi pendidikan lainnya? Asuransi pendidikan merupakan salah satu bentuk perlindungan dana pendidikan untuk anak. Asuransi pendidikan menawarkan uang pertanggungan dengan nominal yang pasti apabila terjadi risiko seperti kematian pada tertanggung. Sebagian besar asuransi pendidikan sekarang ini merupakan kombinasi dengan tabungan sehingga Anda juga dapat melakukan investasi dan memperoleh keuntungan.

Pada tabungan pendidikan, sebagai pencari nafkah Anda harus berkontribusi secara teratur untuk mencapai total dana tertentu sehingga mampu membiayai kebutuhan pendidikan anak. Setiap bulan kita harus menabung dengan nominal minimal dan ada jangka waktu tertentu sampai dana di tabungan bisa dicairkan. Dana di tabungan tersebut mendapatkan bunga dengan jumlah tetap dan dari bunga tersebut Anda mendapatkan keuntungan. Tabungan pendidikan umumnya memiliki jangka waktu yang lebih pendek daripada asuransi pendidikan. Dana Anda di tabungan pendidikan dijamin oleh bank, nominalnya tidak akan pernah berkurang, risikonya lebih kecil, namun keuntungan yang diperoleh tidak dapat bertambah karena bunganya tetap.

Perbedaan mendasar tabungan pendidikan dengan asuransi pendidikan adalah apabila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada si pencari nafkah, tidak ada penggantian tambahan yang diberikan oleh pihak bank. Nasabah hanya memperoleh sejumlah dana yang sudah ada di tabungan tersebut. Pada saat itu mungkin saja nominal di tabungan tersebut belum cukup untuk mendanai pendidikan anak Anda. Pada kondisi seperti itulah, asuransi pendidikan memiliki keunggulan dibandingkan tabungan pendidikan. Asuransi pendidikan memberikan manfaat dengan menjamin sejumlah uang dengan nilai yang berkisar antara 100-200% dari uang pertanggungan yang diperuntukkan dana pendidikan anak.

Asuransi pendidikan merupakan suatu produk yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi. Dengan membeli asuransi pendidikan, Anda juga diharuskan menyisihkan pendapatan dalam nominal untuk membayar premi dalam jangka waktu yang telah disepakati. Asuransi pendidikan memberikan perlindungan (proteksi) jika ada risiko tertentu di kemudian hari. Sebagai orang tua mungkin saja suatu hari nanti Anda kehilangan kemampuan Anda untuk bekerja secara produktif di saat anak Anda masih sepenuhnya bergantung pada pendanaan dari Anda. Tentunya pada saat itu Anda berharap ada dana tambahan yang sudah dipersiapkan untuk membantu membiayai pendidikan anak.

Asuransi pendidikan dengan kombinasi investasi di dalamnya dapat memberikan keuntungan ataupun kerugian tergantung dari kondisi pasar. Sebagian dana di asuransi pendidikan tersebut dapat Anda pilih untuk diinvestasikan ke dalam beberapa instrumen pasar modal seperti saham, obligasi, atau ekuitas. Dari investasi tersebut bila Anda bermain dengan baik akan diperoleh untung yang jauh lebih besar dibandingkan bunga di tabungan pendidikan. Oleh karena itu Anda juga harus belajar lebih lanjut mengenai investasi dengan instrumen-instrumen tersebut agar tidak dirugikan setelah membeli suatu asuransi pendidikan.

Asuransi pendidikan secara garis besar merupakan asuransi jiwa berjangka yang dikombinasi dengan tabungan. Asuransi jiwa pada asuransi pendidikan memberikan proteksi pada pencari nafkah di keluarga, bisa ayah atau ibu. Sehingga bila tiba-tiba tertanggung pada asuransi sakit, cacat hingga tidak mampu lagi bekerja atau meninggal sehingga tidak mampu lagi membiayai, maka dana dapat dicairkan atau uang pertanggungan akan diberikan pada ahli warisnya sesuai perjanjian pada polis asuransi Anda di awal.

Manfaat yang Ditawarkan Asuransi Pendidikan

Ada beberapa manfaat yang ditawarkan asuransi pendidikan antara lain menjadi salah satu metode pengamanan keuangan yang baik. Dengan membayar premi setiap bulan/ tahun dengan jumlah yang tetap berarti Anda belajar untuk menyisihkan uang dan menabung. Uang yang diperuntukkan dana pendidikan anak akan lebih aman dan tidak diutak-atik untuk keperluan lainnya yang tidak begitu penting, sebut saja untuk jalan-jalan atau rekreasi. Dengan begitu uang untuk dana pendidikan anak lebih aman dari kemungkinan habis terpakai untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya. 

Sektor pendidikan merupakan sektor yang mengalami inflasi setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik di tahun 2017, uang kuliah menyumbang inflasi sebesar 0,04% dan uang sekolah SMP atau SMA sebesar 0,01%. Jadi dalam beberapa tahun ke depan ketika anak Anda sudah mau masuk sekolah tinggi ataupun kuliah, harga yang harus dibayarkan pasti mengalami kenaikan berkali-kali lipat. Mampukah Anda pada saat itu mencukupi kebutuhan buah hati Anda untuk bisa masuk ke sekolah yang diinginkannya? Asuransi pendidikan merupakan salah satu modal Anda untuk hal itu.

Manfaat lain dari asuransi pendidikan adalah memberikan rasa tenang dan aman. Apabila suatu waktu terjadi kejadian yang tidak diharapkan, anak sudah dibekali dengan dana yang cukup untuk bersekolah. Manfaat yang tidak kalah penting adalah asuransi pendidikan bisa menjadi media berinvestasi. Bila Anda mempunyai keinginan untuk belajar melakukan investasi, melalui asuransi pendidikan tertentu Anda bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Memilih Jenis Asuransi Pendidikan yang Tepat

Anda harus memilih jenis asuransi pendidikan yang tepat karena masing-masing asuransi memiliki besaran premi, masa premi yang harus dibayar, dan metode pembayaran premi yang berbeda-beda. Sebaiknya Anda menyesuaikan produk asuransi pendidikan yang dipilih dengan pendapatan dan kemampuan finansial Anda dan pasangan.

Asuransi Sequis yang sudah sekitar 35 tahun bergerak dalam bidang asuransi menyediakan berbagai macam produk asuransi termasuk asuransi pendidikan. Perlu Anda ketahui bahwa Sequis adalah perusahaan asuransi yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sekarang ini ada 5 jenis produk asuransi pendidikan yang ditawarkan oleh Sequis. Tiap jenis asuransi pendidikan tersebut menawarkan premi yang berbeda, masa pembayaran premi yang berkisar antara 3-15 tahun dan masa pertanggungan yang paling lama 18 tahun.

Asuransi pendidikan jenis TelePro Beasiswa Berjangka yang ditawarkan oleh Sequis memberikan dana pendidikan yang diberikan secara bertahap sesuai jadwal dengan besar 150% dari uang pertanggungan. Masa pembayaran premi hanya 8 tahun, namun masa perlindungan yang diberikan mencapai 18 tahun ke depan. Asuransi pendidikan dari Sequis juga menawarkan metode waktu pembayaran yang fleksibel, ada yang bulanan, ada yang setiap 3 bulan, setiap 6 bulan, bahkan tahunan seperti pada produk Sequis EduPlan. Jenis mata uang yang digunakan untuk membayar premi juga perlu dipertimbangkan apabila ada rencana menyekolahkan anak di luar negri. Asuransi Sequis Global EduPlan menggunakan mata uang dollar Amerika Serikat untuk pembayaran premi.

Masa pertanggungan asuransi pendidikan yang bervariasi dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Namun, perlu Anda ingat kembali masa pembayaran premi asuransi pendidikan cukup panjang sehingga Anda harus memastikan mampu membayar premi hingga selesai dan tidak tersendat di tengah jalan.

Kesimpulan

Saat mulai berkeluarga ingatlah bahwa ada kebutuhan pendidikan bagi anak-anak Anda. Rencanakan secara matang, mungkin asuransi pendidikan bisa menjadi salah satu prioritas Anda di kemudian hari. Asuransi pendidikan merupakan suatu bentuk investasi jangka panjang. Dengan demikian Anda harus berkomitmen dan memastikan diri mampu membayar premi sesuai perjanjian agar mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Membaca isi polis asuransi dengan teliti dan mengerti secara baik seluruh isi polis tersebut merupakan hal yang dasar sebelum memilih suatu produk asuransi. Bila masih ada hal yang tidak Anda mengerti sebaiknya tanyakan lebih lanjut agar tidak menyesal di kemudian hari apabila ternyata dana yang Anda peroleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Memperoleh second opinion juga diperlukan bila Anda masih merasa ragu dengan pilihan Anda. Setiap perusahaan asuransi tentu mengklaim bahwa produknya merupakan produk terbaik untuk Anda, namun kembali lagi ke diri masing-masing, sesuaikanlah dengan kemampuan, kebutuhan dan target Anda sendiri.