Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Tuesday, April 14, 2020

Hitman: Agent Jun Review

Film Hitman: Agent Jun ini keluar di tahun 2020 dan sudah ada di aplikasi Viu. Film yang wajib ditonton untuk mengisi waktu luang selama masa karantina Covid-19 #dirumahaja. Sebelum nonton saya gak tahu apa-apa tentang film ini. Awalnya malas kalau mesti nonton film dengan tema yang berat atau tentang gangster-gangster yang pasti didominasi sama tembak-tembakan saja sepanjang film. Tapi ternyata film ini adalah film action comedy.

Agent Jun adalah seorang yatim piatu yang sejak kecil bercita-cita ingin jadi komikus (yang buat komik - bukan yang ngomong di stand up comedy yah). Namun, ia ternyata "dipungut" oleh National Intelligence Service (NIS) Korea Selatan untuk dilatih jadi hitman yang bertugas untuk membunuh orang-orang incaran NIS dalam berbagai misi yang dirahasiakan oleh negara.

Agent Jun ini merupakan agent yang paling jago dan paling sering ditugaskan dalam misi perorangan yang mana cuma dia sendiri melawan musuh-musuhnya. Di awal film kita bisa lihat dia jago dan keren banget waktu jadi Agent Jun. Di sebuah misi yang mengharuskan dia lompat dari helikopter, parasutnya gagal kebuka, hingga akhirnya terjunlah dia ke dalam laut lepas.

NIS mengira Agent Jun sudah meninggal, bahkan mereka sempat membuatkan pemakanan untuk dia. Tapi saat itu mereka gak bisa menemukan jenazah Agent Jun. Ternyata oh ternyata, kematian Agent Jun adalah skenario buatannya sendiri. Tujuannya adalah karena dia ingin bebas dan mengejar cita-citanya jadi komikus. BAHAHAHA....

Di mulailah kehidupan mantan agen ini menjadi seorang komikus, yang ternyata komiknya gak sukses wakakakak. Mungkin di sinilah beberapa orang jadi kesel kok nih agen cemen banget dan kelihatan bego banget di kehidupan nyatanya. Belum lagi sekarang dia sudah punya istri dan anak, istrinya suka marahin dia, dan dia sebagai bapak juga gak bisa memenuhi semua kebutuhan anaknya secara komik yang dia publikasi gak laku.

Sampai pada suatu hari, anaknya bilang kenapa bapak gak nulis cerita yang berdasarkan cerita kehidupan sendiri aja (di situ istri dan anak gak ada yang tahu bapaknya mantan hitman NIS). Tentunya dia merasa serba salah karena gak mungkin dia menceritakan kisah rahasianya tersebut dalam komik. Lalu suatu waktu karena kesal dengan keadaan ditambah mabok akhirnya dia gambar komik yang menceritakan kisahnya selama jadi Agent Jun..........dan dikirim lah sama istrinya ke editor tanpa sepengetahuan dia. Dari situlah dimulai segala konflik yang ada di film ini.

Kocak bukan main (buat saya sih). Pokoknya ini cocok lah dengan selera komedi saya. Di film ini juga ada gabungan ilustrasi kartun yang membuat film ini berbeda dari film-film Korea lain yang pernah saya tonton. Adegan laga dalam film action comedy ini termasuk cukup menurut saya. Kamu masih bisa lihat adegan tonjok-tonjokan, tusuk-tusukan, tembak-tembakan dengan segala ciptran darahnya dalam film ini.

Durasi film 1 jam 45 menit, terasa agak lama buat beberapa orang untuk tipikal film action comedy. Beberapa adegan ngobrol-ngobrol mungkin terasa panjang buat beberapa orang, tapi buat saya ini pas sekali, apalagi interaksi bapak-anak dalam beberapa adegan yang menurut saya terlalu sayang jika dicut. Di pertengahan hingga akhir, bahkan saya merasa filmnya terasa sangat cepat habis.

Untuk endingnya yah tentu saja gak ada yang baru yah, heronya pasti menang punya. Buat orang yang berharap nonton film dengan tokoh utama yang keren seperti James Bond, mungkin bakalan kecewa nonton film ini karena memang tokoh utamanya gak diceritakan seperti itu. Wajar saja lah, ini sisi lain kehidupan mantan agen.

Well....terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki oleh film ini, film Hitman: Agent Jun ini masih layak sekali kok untuk dinikmati, cocok ditonton sambil santai sore dan makan cemilan :}

Tuesday, March 24, 2020

Review Film Door Lock

Door Lock adalah sebuah film remake dari sebuah film Spanyol keluaran tahun 2011 dengan judul Sleep Tight. Film Door Lock ini rilis di tahun 2018 dan dibintangi oleh aktris kawakan Gong Hyo Jin. Film ini bergenre thriller, sebuah film yang menjanjikan karena aktrisnya beliau yang sudah terkenal dengan drama-drama serinya yang selalu bagus.


It's a simple movie dan mungkin perempuan-perempuan yang tinggal di Korea lebih bisa memahami posisi si pemeran utama wanita di film ini. Jadi film ini menceritakan Kyung Min (Gong Hyo Jin) yang bekerja sebagai petugas bank dan tinggal di apartemen one room.  Dia merasa ada orang yang berusaha masuk ke kamar apartemennya karena penutup kunci otomatis pintu kamarnya dalam posisi terbuka. Ada satu malam ketika tiba-tiba pintunya ada yang gedor dan orang di luar tersebut mencoba membuka pintu (gagang pintunya digerak-gerakin terus, horor sih ini!).

Di Korea sepertinya banyak yah perempuan yang tinggal sendiri di apartemen. Gedung-gedung tinggi, lorong-lorong panjang, naik lift sendirian malam-malam. Kayaknya banyak juga deh kasus-kasus cewe-cewe diikuti sama orang sampai ke kamar apartemennya. Ada tuh kan satu video cctv yang kayak popular banget di media sosial. Kalau di Indonesia banyakan orang ngekos yah dan kalau kosan kan biasa antar penghuninya masih saling sapa saling kenal dan daerahnya biasanya ramai gak lorong-lorong panjang gelap.

Mencekam dari Awal

Yap film ini memberikan suasana mencekam dari awal dengan warna film yang gelap (bahkan gw sampai mesti naikin kecerahan layar komputer supaya bisa nonton dengan jelas, tapi tetap saja memang gelap). Buat yang gampang jantungan, hati-hati, suara latarnya itu loh yang bikin orang kagetan. 

Cerita-cerita begini kayaknya udah banyak sih diangkat jadi film, jadi sebenarnya gak ada yang baru-baru banget. Tapi kalau kamu cewe dan nonton film ini kayaknya lebih greget. Kenapa? Soalnya kita pasti pernah kan merasa takut kalau jalan pulang malam-malam, kayak takut ada yang ngikutin. Terus kadang parno sendiri kalau ada yang ngetuk pintu kamar malam-malam, apalagi kalau di Indo kamar kosan kan gak ada lubang pengintip di pintunya, jadi mau gak mau mesti buka jendela atau modal suara nanya. 

Di film ini kita diajak menerka-nerka siapa sih pelaku sebenarnya. Ada beberapa adegan yang menceritakan si pelaku itu seperti punya master key yang bisa buka pintu-pintu apartemen secara otomatis tanpa memasukkan kode. Yang bikin makin merinding adalah itu orang tinggal di dalam apertemennya cewe itu, pakai kamar mandinya terus tidur di ranjangnya........hiii

Ada yang Kurang

Film ini durasinya agak panjang tapi entah kenapa seperti ada yang kurang tapi apa yah. Secara akting pemeran-pemerannya sih gak ada yang perlu diragukan yah. Meyakinkan semua, bikin saya ikut-ikutan cemas nontonnya. 

Peran utamanya diceritakan sebagai seseorang yang introvert, pemalu, bukan orang yang vokal gitu, gampang ketakutan. Jadi apakah wajar yah ketika kita yang ada di posisi dia kita juga akan berakhir melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dan akan selamban itu menghadapi situasi-situasi tersebut. 

Beberapa adegan juga ada yang kayak kurang masuk akal lah ya, terutama yang bagian dia menemukan tempat persembunyian si pelaku. Agak kurang gimana gitu.

Kasus-kasus stalker kadang suka dianggap remeh yah. Saya sih belum pernah harus berurusan dengan hal-hal demikian apalagi sampai perlu melaporkan ke polisi. Di sini tampak polisi awalnya tidak menganggap serius pengaduan pemeran utama yang bilang kalau ada orang yang berusaha masuk ke apartemennya. Alasannya yah karena gak ada bukti dan gak ada tanda pengrusakan baik di pintu maupun di kunci pintunya. Yah begitulah yah.... kayaknya memang polisi punya kriteria masing-masing mana kasus yang bisa langsung dilakukan penyidikan mana yang masih harus tunggu. 

Oh ya, kenapa gw bilang ada yang kurang dari film ini? Mungkin karena gw kerap membandingkan dengan peran Gong Hyo Jin di drama terakhirnya yang gw tonton, yaitu When Camellia Blooms. Mirip lah di situ ceritanya ada serial killer gitu yang tertarik sama dia, tapi di sana karakternya lebih bagus daripada di film Door Lock ini. Makanya sebagai perempuan gw lebih suka dia di film drama itu. 

Adegan yang Paling Bikin Merinding (Spoiler)

Adegan yang paling sukses bikin merinding adalah ketika si pemeran perempuan masang CCTV di kamar apartemennya. Jadi dia duduk di ranjang terus penasaran dia tonton isi video CCTV hari itu. Di video itu dia lihat pelaku membuka pintu kamarnya, lalu masuk berjalan ke arah ranjang, dan kemudian menunduk dan menyelinap di kolong ranjang........HIIIIIIII terka sendiri adegan selanjutnya, tonton sendiri aja.

Gak bisa kita pungkiri memang banyak orang-orang yang obsessed dan agak waras di dunia ini, yang berpikir kalau orang lain tuh bisa jadi propertinya mereka. Beberapa pelaku menganggap diperlakukan gak adil sama dunia atau dia merasa orang-orang gak memperhatikan dia karena dia orang kecil / miskin. Rasa sakit hati ini yang terkadang di beberapa orang memicu perilaku-perilaku gak sehat yang gak bisa dinalar pake logika. 

Jadi.....berhati-hatilah selalu yah. Waspada selalu. Terkadang di tempat yang kita rasa aman (contoh aja kamar kita sendiri) ternyata gak seaman itu he he he he.

Monday, March 23, 2020

Cerita Film Kim Ji Young Born 1982

Film Kim Ji Young Born 1982 sudah ada di Viu teman-teman! Sebelumnya gw sudah menonton film ini tapi subtitlenya kacau, akhirnya nonton lagi deh. Ini film hits banget di Korea Selatan, banyak menuai pro dan kontra. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama, karangan Cho Nam Ju, yang sebelumnya juga banyak ditentang karena membahas isu-isu feminisme.

Yah sepertinya tidak perlu jauh-jauh menilai kehidupan di Korea Selatan, di bumi Indonesia tercinta ini kata-kata "perempuan itu tugasnya ngurus rumah, ngurus dapur, dan ngurus anak" masih kerap kali kita dengar. 

Deksripsi Kehidupan Perempuan Tanpa Banyak Drama

Film ini ibaratnya penelitian deskriptif, isinya deskripsi kehidupan perempuan, tanpa banyak drama dan konflik yang perlu dipecahkan. Jadi saat menonton film ini jangan mengharapkan ada sensasi naik roller coaster seperti lagi nonton film thriller atau action. Ceritanya mengalir saja, menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari Kim Ji Young yang diperankan oleh Jung Yu Mi serta interaksinya dengan suami (Gong Yoo), keluarganya, keluarga suaminya, dan orang-orang lain di sekitarnya. 

Adegan-adegan yang muncul di film ini mungkin bisa membuat kamu teringat dengan kejadian-kejadian dalam hidup kamu. Sangat realistis sekali digambarkan. Misalnya saat Kim Ji Young lagi duduk-duduk di taman, lalu ada sekelompok karyawan lagi mengobrol sambil minum kopi. Di sana ada seorang karyawan laki-laki berkata seperti ini "Enak yah jadi ibu rumah tangga, bisa santai-santai, tinggal ngandelin gaji suami aja". Kim Ji Young saat itu tidak sengaja mendengar, memang sih karyawan itu bukan maksud mengejek dia sebab ada banyak ibu-ibu lain yang juga sedang duduk-duduk di sana. Tapi Kim Ji Young saat itu seperti "tersentil" dan beranjak dari tempat dia duduk.

Kalau kamu sudah nonton trailer film ini, mungkin kamu ingat atau bahkan kamu yang sudah berkeluarga juga mengalaminya, interaksi dengan mertua. Yap, mertua adalah seseorang yang cukup "ditakuti" dan menjadi momok bagi perempuan ketika mau memulai hidup berkeluarga. Menikah itu bukan cuman mengikat kamu dan suamimu, tapi juga dengan keluarganya. Bagaimana pun juga ibu suamimu itu kan tetap "orang lain" dan kerap kali asing buat kamu. Suaminya Kim Ji Young adalah anak laki-laki satu-satunya (ada saudara perempuan) dan di Korea Selatan anak laki-laki masih jadi primadona di keluarga yang seakan-akan punya posisi yang lebih tinggi dari anak perempuan. Tidak jarang ketika menikah, ibu mertua model begitu menganggap bahwa perempuan yang menikahi anaknya seperti "merebut" anak laki-lakinya dari dia dan selalu merasa menantunya itu "really lucky to have his son."

Pada adegan dalam trailer tersebut diceritakan, Kim Ji Young harus membantu menyiapkan makanan (dari subuh) untuk keluarga suaminya karena saat itu sedang tahun baruan jadi semua anak-anak kumpul. Ibu mertua juga menyuruh Kim Ji Young untuk mencuci piring-piring kotor dan setumpuk alat masak. Saat Gong Yoo mau bantu, ibu mertua malah bilang "wah anak gw modern husband banget, enak banget punya suami kayak gitu" seakan-akan menganggap anaknya kebaikan banget ngerjain tugas istri. Lalu saat ada anak perempuannya datang, mau bantu-bantu malah disuruh istirahat karena katanya "Lu kan udah cape kerja di tempat mertua lu." Di sini lah lu akan mulai melihat Kim Ji Young yang berbeda.

Peran Perempuan bagi Perempuan Lain

Dalam film ini banyak sekali ditampilkan bagaimana peran perempuan bagi perempuan lain. Adegan kumpul-kumpul ibu-ibu yang anaknya satu sekolah dengan anak Kim Ji Young saja sudah pasti akrab dengan kehidupan ibu-ibu sehari-hari. Di sana mereka saling bercerita bagaimana masing-masing dari mereka sebelumnya sekolah tinggi dan punya karir yang mereka senangi. Ada satu ibu yang kuliah di universitas ternama di Seoul, temannya bercanda, kuliah tinggi-tinggi cuma buat ngajarin anaknya perkalian. Yah saling bercerita lah, melepas penat mengurus rumah.

Kim Ji Young ini dulunya juga wanita karir. Dia kuliah sastra Korea, tapi bekerja di perusahan marketing dan bercita-cita mau jadi penulis. Di tempat kerjanya juga dia berhadapan dengan diskriminasi gender seperti misalnya: susah dapat kenaikan jabatan, tidak diikutsertakan dalam tim karena ditakutkan akan cuti lama untuk hamil dan melahirkan. Bahkan salah satu karyawan perempuan yang senior di sana, masih kena bully soal gender oleh karyawan lain yang laki-laki. Diceritakan anak team leader perempuan itu sudah  masuk SMA dan dari kecil karena dia kerja anaknya diurus sama mamanya. Hal ini lalu ditanggapi oleh karyawan pria: "Wah kalau SMA lagi badung-badungnya. Anak yang gak diurus sendiri ama mamanya biasanya jadi pembangkang loh. Siapa yang peduli kalau lu sukses tapi anak lu jadi begajulan." Lalu apakah team leader perempuan itu lantas mundur dari kerjaannya? No no no...di film ini diceritakan malah dia buka perusahaan baru di mana dia yang jadi bosnya (karena di perusahaan lama jabatan dia gak naik-naik...lagi-lagi karena dia perempuan). Dia kemudian juga menawarkan Kim Ji Young untuk kembali bekerja di perusahaan barunya tersebut.

Cerita lain yang berkesan di film ini adalah ketika Kim Ji Young masih remaja, lalu di atas bus ada satu anak laki-laki sepertinya stalkernya dia. Di atas bus itu dia ketakutan sekali tapi gak bisa ngomong atau teriak karena kan laki-lakinya juga gak ngapa-ngapain. Ada seorang ibu yang duduk di hadapan Kim Ji Young, dia memperhatikan gerak geriknya kok kayak gelisah, dia pun sempat bertanya pada Ji Young "Lu kenapa, baik-baik aja?" Akhirnya Ji Young memberi kode ke perempuan itu untuk meminjam telepon genggamnya. Menggunakan telepon genggam itu Ji Young mengetik pesan buat bapaknya lekas jemput di halte bus. Akhirnya tiba di perhentian bus, Ji Young turun, laki-laki itu pun mengikuti dia dan sudah manggil dia untuk berhenti. Tidak lama bus berhenti lagi dan ibu-ibu yang tadi kasih pinjam hpnya itu turun manggil-manggil Ji Young, dia bilang ada barang ketinggalan (mungkin dia baca pesannya Ji Young ke bapaknya tadi). Laki-laki itu pun kabur. Di adegan itu gw merasa yah di saat perempuan susah itu terkadang yang bisa mengerti yah kita yang sama-sama perempuan. Kita harus saling peduli dan menolong.

Sebab kelanjutan adegan itu, bapaknya Ji Young datang dan mendengar ceritanya langsung dari Ji Young. Bukan malah emosi sama cowo yang ngikutin anaknya, malah dia nyalahin anaknya "Lu jangan pake rok pendek, jangan senyum-senyum sembarangan, kalau sampai kejadian apa-apa berarti salah lu-nya gak bisa menghindar." Hadeuh.

Isu Kesehatan Mental

Film ini juga mengangkat isu kesehatan mental. Di awal-awal film kita lihat Gong Yoo lagi ke psikiater sambil menunjukkan sebuah video ke dokter. Gw pikir paling masalahnya si Kim Ji Young depresi atau self harm gitu yah. Tapi ternyata yang tampil dalam film ini adalah dissociative identity disorder atau sering disebut multiple personality / kepribadian ganda. Nanti akan ditunjukkan bagaimana Ji Young akan bicara selayaknya orang lain, terutama dalam situasi di bawah tekanan. Kim Ji Young mulai berbicara seperti neneknya yang sudah mati (di adegan itu dia panggil ibunya sendiri dengan nama langsung dan menasehati ibunya untuk jangan terus berkorban buat orang lain, uda cukup ngorbanin masa muda dan cita-cita lu buat ngidupin sodara2 cowo lu. sedih sih ini), lalu bahkan menjelma jadi ibunya sendiri saat main sama anaknya (ini yang divideokan oleh Gong Yoo), dan jadi temennya yang udah meninggal. Setiap kali dia menjelma jadi orang lain itu Ji Young gak sadar dan kemudian akan lupa sama hal-hal yang dia kerjakan saat dia sedang dalam identitas yang lain. 

Kamu bisa lihat di film ini gimana perkembangan Kim Ji Young dari awalnya yang passionate dengan kerjaan, punya cita-cita, kemudian jadi ibu rumah tangga, tuntutan dari mertua untuk jadi istri yang ideal, keinginan untuk kembali bekerja tapi dia gak yakin dengan suaminya benar-benar setuju atau hanya manis di depan doang, sampai akhirnya suaminya nyadarin kalau dia sakit. Di awal hingga tengah film itu kita disuguhkan dengan Kim Ji Young yang macam empty shell, kayak bunga layu, pucet, begitu-begitu aja dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Gong Yoo digambarkan seperti suami ideal yang sayang sama istrinya dan setidaknya dia yang pertama menyadari kalau istrinya sakit. Dari awal dia sudah sering menanyakan "Lu baik-baik saja?", berulang kali sih sepertinya dia khawatir dengan kondisi istrinya. Ada satu kali Ji Young curhat, "Gw kayak gampang marah dan kesel sama semua hal akhir-akhir ini" yang kemudian ditanggapi suami, "Gak itu gak aneh kok, wajar klo orang marah." 

Tapi di beberapa adegan pun digambarkan Gong Yoo sebagai anak yang gak bisa lepas juga dari kendali mamanya, gak bisa juga dia nentang mamanya untuk membela istrinya (yaiya lah yah), dan hal itu wajar sekali. Kebayang kan gimana si Gong Yoo harus menghadapi mamanya yang begitu dan ngadepin istrinya yang lagi butuh bantuan. Ada saat-saat tertentu juga, yang mana mungkin karena pengaruh teman-teman kerjanya yang mostly laki-laki, dia sempat bilang waktu mau ambil cuti "paternal leave": "Ya gw cuti aja paternal leave, biar kalau lu mau kerja, gw bisa istirahat di rumah jaga anak". Di situ Ji Young langsung nyamber "Jaga anak itu bukan istirahat."

Setidaknya film ini berakhir pada Ji Young yang ke psikater dan mulai konseling, memulai karir baru, dan suaminya yang cuti dan gantian mengurus anak sementara waktu. Paling tidak film ini menampilkan sisi lain lah, bahwa bisa loh wanita yang kerja, pria yang ngurus rumah tangga. Gak saklek tuh wanita yang nyuci piring, nyuci baju, ngepel nyapu, sementara prianya di rumah tinggal leyeh-leyeh karena sudah kerja di kantor dan menghasilkan uang. Di film ini Gong Yoo ada bantu-bantu ngurus anak sedikit-sedikit, walaupun yah mostly tetap Ji Young yang kerja. Wajar sih film ini dapat kritik pedas dari laki-laki di Korea Selatan, mungkin di sana modelnya cowo itu yah seperti di gambaran film ini, lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan. Makanya ketika ditampilkan hal yang sebaliknya jadi murka lah mereka. 

Film ini betul-betul hanya bercerita, penonton boleh menilai apa saja. Film ini tidak menghakimi siapapun dan apa yang ditampilkan dalam film ini adalah sesuatu yang umum kita temukan di kehidupan sehari-hari. Perempuan yang kalau berkarir kemudian tidak menikah disebut perawan tua. Perempuan yang karirnya bagus dianggap tidak mampu mengurus keluarga dengan baik. Perempuan yang menikahi anak laki-lakinya dianggap sebagai "perebut" dan saingan sama mertua. Perempuan yang peluang karirnya dibatasi sama "nanti kan mesti hamil dan lahiran".

Karakter Favorit dan Adegan Favorit

Karakter favorit gw adalah mamanya Kim Ji Young. Dia kelihatan sekali berusaha menerapkan kalau anak laki-laki sama perempuan tuh sama. Hal ini nurun ke anak pertamanya (kakak perempuan Kim Ji Young) yang sepertinya rada tomboy dan gak mau disuruh-suruh ngerjain kerjaan rumah tangga doang. Mamanya Kim Ji Young nih marah besar sama suaminya pas tahu kalau suaminya pulang bawa suplemen satu dus cuma buat anak laki-lakinya. Dia bilang "Emangnya anak perempuan gak bisa sakit?" Karakter favorit lain adalah kakak perempuannya Kim Ji Young, dia gokil sih hahahaha nonton aja sendiri deh. Dari kecil aja uda savage cara ngomongnya.

Adegan favorit gw adalah saat Ji Young kecil ngobrol sama mamanya. Mamanya Ji Young bilang dia dulu yang paling pintar di antara saudara-saudaranya (laki-laki) dan dia bercita-cita jadi guru. Tapi dia mesti kerja jadi buruh jahit di pabrik buat bisa nyekolahin tinggi saudara-saudaranya. Terus Ji Young tanya "Terus kenapa mama gak jadi guru aja sekarang?" Mamanya jawab, "Karena sekarang uda punya anak, jadi harus ngurus kalian." Jawab Ji Young "Jadi mama gak bisa jadi guru karena aku?"

Banyak teman-teman perempuan di luar sana yang menyerukan kesetaraan gender, tapi kemudian mendapatkan serangan dari laki-laki dan bahkan sama sesama perempuan (ini yang gw gak habis pikir sih). "Kalau ganti galon atau ganti tabung gas jangan suruh laki-laki kalau mau disetarakan" atau "Yah kalau kompetensinya beda masa mau sama gajinya" atau "Kalau perempuannya cuti hamil laki-laki juga dong harusnya" .......hmmmmm kalau semuanya dibalik gimana "Kalau gitu situ yang ngangkang di tempat tidur terus ngeden keluarin bayi 3 kg dari kemaluannya" atau "Kalau gitu situ yang nyuci, ngepel, gosok, nyikat kamar mandi, belanja ke pasar". Debat yang gak akan ada habisnya.

Kalau menurut saya sih laki-laki dan perempuan itu tugasnya saling melengkapi, tidak ada yang superior tidak ada yang inferior. Ada hal-hal yang bisa dikerjakan oleh perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki juga boleh kok handal mengerjakannya. Begitu juga sebaliknya. Hargailah setiap orang apapun pekerjaannya. Semua pekerjaan itu pasti ada capeknya, orang nunggu aja capek kok. Ya gak? Semoga suatu hari nanti gak ada lagi kalimat "Kamu seharusnya terlahir sebagai seorang laki-laki."

Friday, August 23, 2019

The Witch : Part 1 The Subversion Review


Film dengan tema manusia mutan hasil percobaan dengan kekuatan super mungkin sudah sering dibuat oleh Hollywood. Tapi untuk Asia sendiri, gila film The Witch ini menurut gw yang terbaik deh. Tema cerita yang terkesan biasa kalau di film Barat dibuat sedemikian rupa dengan bumbu-bumbu drama dan akting memukau aktor-aktor Korea ternama. Film yang disutradarai oleh sutradara Park Hoon Jung ini rilis di tahun 2018. Film The Witch : Part 1 The Subversion mendapat rating 7/10 dari IMDB dan 85% dari Rotten Tomatoes.

Film The Witch : Part 1 The Subversion bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Goo Ja Yoon yang diperankan oleh aktris Kim Da Mi. Entah kenapa di film ini dengan gaya rambutnya yang pendek itu bikin berkali-kali gw mengira dia adalah Kim Go Eun yang main di drama Goblin itu. Si Kim Da Mi ini meranin siswi SMA super pintar dan berprestasi. Dia mendadak jadi terkenal karena tampil di acara pencarian bakat di televisi dengan trik "magic" nerbang-nerbangin microphone. Setelah itu mulai banyak orang-orang yang nyari dia karena "kekuatannya" itu.

Di awal film ini kita lihat ada anak-anak kecil yang dibantai-bantai oleh sekelompok orang berbaju hitam. Nah ternyata Kim Da Mi itu salah satu dari anak-anak percobaan tersebut yang berhasil melarikan diri. Kim Da Mi merupakan salah satu hasil percobaan yang berhasil dan termasuk yang paling hebat kekuatannya dibandingkan anak-anak lain. Tapi karena efek percobaan itu, tubuh Kim Da Mi lama-lama rusak dan dia butuh obat yang dibuat oleh kelompok orang yang menciptakan dia agar bisa bertahan hidup.

Awalnya kita dibuat berpikir kalau Kim Da Mi ini amnesia, sehingga dia gak punya ingatan masa kecil. Tapi, tentu tidak.......hahaha pokoknya nonton dulu, di situ gregetnya. Selain plot cerita yang menarik, maju mundur tapi gak bikin bingung, unsur laga di film ini juga seru banget. Efeknya mantap, soundnya oke, sadis-sadis pembunuhannya juga keren banget lah (walaupun ada beberapa adegan kena sensor kalau di Viu).

Film ini menang banyak karena beberapa hal berikut:

  1. Akting Kim Da Mi yang gila banget. Bisa keliatan sangat kayak anak SMA polos padahal umur pemerannya 24 tahun. Di adegan lain bisa kayak psikopat pembunuh yang dengan muka berlumuran darah bikin bulu kuduk berdiri. Gila banget lah pokoknya.
  2. Akting semua aktor lainnya yang gak kalah bagus
  3. Akting laga yang presisi, penempatan akurat, dan bikin merinding
  4. Durasi filmnya panjang, tapi memang harus segitu untuk bisa menceritakan peran utama yang hidupnya memang berlibet banget. Tapi durasi 2 jam lebih gak berasa banget, apalagi pas sudah pertengahan ke akhir film
Saya merekomendasikan film ini buat kamu yang suka genre film action thriller yang rada-rada sadis tapi pengen yang masih ada plot cerita yang bagus bukan cuma sekedar bacok-bacokan. Film ini bisa kamu tonton di aplikasi Viu dengan subtitle yang oke pastinya. Oh ya, karena ini baru part 1, di akhir film endingnya ada kelanjutannya buat part berikutnya dengan kemunculan tokoh baru. Makin penasaran bagaimana kelanjutan hidupnya Goo Ja Yoon di sekuelnya nanti. Yuk nonton dulu part 1 film The Witch ini!

Friday, August 16, 2019

The Accidental Detective 2: In Action REVIEW

Review film lagi. Ini temanya lagi ngereview film-film yang ada di aplikasi VIU. Kenapa viu? aplikasinya praktis, gak berbayar selain kuota, tapi kalau pakai wifi yah gratis hehehe. Terjemahan baik bahasa Ingris dan Indonesia keduanya bagus dan enak dibacanya. Bisa dibuka di smartphone, tablet, maupun laptop. Filmnya juga lumayan lengkap yah dari mulai drama Korea, China, Thailand, Indonesia, film-film, dan juga variety show.

Kali ini mau mengulas film The Accidental Detective 2: In Action, sebuah film karya sutradara Lee On Hee yang keluar di tahun 2018. Film bertema detektif/ polisi dengan selipan-selipan komedi memang kagak pernah salah lah. Film ini sekuel dari The Accidental Detective yang keluar di tahun 2015. The Accidental Detective 2 dibintangi oleh Kwon Sang Woo, Sung Dong Il, dan juga bapak Lee Kwang Soo, yang seperti biasa biarpun perannya kocak tapi krusial di film ini. Melanjutkan cerita sebelumnya Dae Man (Kwon Sang Woo) dan Tae Soo (Sung Dong Il) meninggalkan bisnis dan pekerjaan mereka sebelumnya untuk membuka bisnis detektif swasta. Tapi bisnis detektif swasta ini lesu gitu awalnya, kasus yang masuk cuma kasus-kasus mudah dan sepele. Sampai suatu hari, mereka si Dae Man lagi di kantor polisi, trus nguping ada ibu hamil melas-melas ke polisi minta kasus suaminya yang meninggal diselidiki ulang. Dae Man melihat ini sebagai peluang bisnis, sehingga langsung kasih kartu nama mereka ke ibu hamil itu.

Gak lama kemudian ibu hamil itu beneran mendatangi kantor mereka, menceritakan kisah kematian suaminya yang menurut dia aneh. Ceritanya suaminya ketabrak kereta malam-malam, pas dia keluar mau beliin makanan buat istrinya yang ngidam. Kasus ini disimpulkan sebagai bunuh diri oleh polisi. Tapi buat istrinya, suaminya gak punya motif apapun untuk bunuh diri. Dae Man dan Tae Soo mulai menyelidiki kasus ini. Dari sanalah mereka menemukan banyak kejanggalan-kejanggalan dan menemukan banyak orang yang juga meninggal "seperti bunuh diri" yang memiliki keterkaitan dengan suami ibu hamil tersebut.

Selain sebagai detektif, di film ini juga diceritakan secuplek kehidupan berkeluarga baik Dae Man maupun Tae Soo. Bahkan ada satu adegan, Dae Man yang saat itu sedang bawa anak bayinya (karena istrinya minggat) kelupaan jemput anak cowonya yang kursus tae kwon do, sampai anak itu hampir mau diculik sama komplotan tersangka pembunuh kasus yang lagi mereka tangani. Terus tiba-tiba istrinya datang juga dan terjadi berantem-beranteman. Dengan ending adegan yang kocak sekali (buat gw). Setelah itu istrinya pun jadi mulai melarang Dae Man untuk meneruskan pekerjaannya karena berbahaya buat keluarga. Tapi pada akhirnya karena dia lihat anaknya bangga dengan pekerjaan bapaknya dan dia lihat Dae Man sungguh-sungguh menyenangi dan bersemangat untuk menangkap pelaku, istrinya kasih ijin juga untuk bekerja kembali.

Gw senang dengan film-film seperti ini. Kelebihan film Korea adalah, aktor yang sudah tua sekalipun bisa jadi pemeran utama. Yang mana dari segi kemampuan akting tuh sudah gak perlu diragukan lagi lah. Lee Kwang Soo yang biasanya juga hanya tampil sebagai peran pendukung, di film ini perannya gak cuma sekedar pendukung sih. Kwang Soo sebagai orang yang freak dengan gadget juga sangat membantu kedua detektif tersebut untuk mengungkap kasus yang mereka tangani, layaknya anggota ketiga. Film berdurasi 116 menit ini (cukup panjang juga yah) tidak berasa sih waktu nontonnya. Walaupun kasusnya hanya 1, tapi ceritanya mampu dibuat luas, dengan adanya tersangka-tersangka dan kasus-kasus lain di dalamnya. Memang kita sudah bisa menduga pelakunya sejak awal, tapi agar bisa ditangkap kan perlu bukti, nah di situlah serunya film ini, mencari bukti. Bahkan kisah sebetulnya di balik kasus awal penyidikan ini ternyata berakhir baik.
Soo..buat yang bingung malam Jumat ini mau ke mana nonton film ini dah di rumah daripada bermacet-macetan ria.

Tuesday, August 6, 2019

Film Psychokinesis Review


Film Psychokinesis merupakan sebuah film asal Korea yang juga tayang di Netflix. Mengambil tema superhero, tapi yang jadi superheronya bukan anak muda melainkan bapak-bapak separuh baya. Film Psychokinesis ini adalah karya sutradara Yeon Sang Ho yang juga merupakan sutradara film populer Train to Busan. Pasti sudah pada nonton kan?

Jadi awal film Psychokinesis ini mengisahkan tentang sebuah kompleks toko-toko kecil, ada rumah makan, pasar, kelontong dengan sebuah agen konstruksi yang mau menggusur orang-orang di sana dan membangung pusat perbelanjaan. Rumi seorang gadis yang jualan ayam goreng di sana, tinggal hanya dengan ibunya setelah bapaknya pergi meninggalkan mereka saat kecil. Saat bentrok antara kubu warga dan penggusur, ibunya Rumi meninggal karena terjatuh saat ditarik paksa keluar dari mobil. Saat lagi di rumah duka, Rumi menelpon ayahnya (yang ternyata nomornya masih ada di handphone ibunya). Muncullah tokoh ayah Rumi, yakni Seok Heon, yang kerja sebagai satpam di salah satu kantor bank. Dia baru-baru aja dapat kekuatan gitu setelah minum air dari waterspring tempat jatuhnya meteor. Awalnya juga dia belum tahu kalau dia punya kekuatan untuk menggerakkan benda-benda dan lainnya. Pokoknya singkat kata nanti akan diperlihatkan bagaimana bapak Seok Heon menggunakan kekuatannya untuk melawan para penggusur dan perusahaan konstruksi tersebut.

Psychokinesis mau dibilang film action tapi kok setengah pertama filmnya kebanyakan dramanya. Yah separuh-separuh lah ya. Sebenarnya ceritanya gak begitu digali sih masing-masing pemerannya dan inti ceritanya yah hanya seputar para warga yang ngelawan orang-orang keamanaan dan tim yang disewa sama perusahaan konstruksi. Jadi jangan harap ada monster-monster atau alien yang akan dilawan sama pemeran utama di film ini. Lawan terbesarnya yah sama-sama manusia juga. Manusia-manusia dalam jumlah yang banyak dan punya kekuatan serta kekuasaan. Peran superhero jatuh pada mereka yang kaum kecil, kaum yang diceritakan gak punya kekuatan apa-apa untuk melawan selain badan mereka sendiri. 

Film ini mendapat nilai 89% dari Rotten Tomatoes dan skor IMDBnya hanya 5,9/10 (kecil bingit). Kalau kamu suka film superhero yang ada sisi dramanya, film Psyschokinesis ini layak banget untuk kamu tonton. Ada kisah-kisah mengharukan juga mengenai hubungan antara anak-bapak yang sempat renggang hingga kemudian membaik kembali. Film ini katanya juga masuk ke dalam 10 film Korea terbaik di tahun 2018 loh. Durasi film hanya 101 menit. Iya "hanya" sebab film-film superhero lain biasanya mempunyai durasi >2 jam. Apakah film ini akan ada sekuelnya lagi? Yuk nonton!

Tuesday, July 9, 2019

Review Swing Kids Movie : Jadi Ingin Belajar Tap Dance

Post ini sudah tersimpan lama di draft gw. Baru sekarang berniat nulis reviewnya, yap, setelah 3 kali mengulang nonton film ini. Swing Kids! Lagi-lagi Korean movie. Swing Kids adalah sebuah film besutan sutradara Kang Hyeong Cheol yang sebelumnya sudah pernah melahirkan film terkenal seperti Scandal Makers dan Sunny. Yap dan kedua film itu ya ampun sukses bikin ketawa dan nangis.

Film Swing Kids diperankan oleh Do Kyung Soo, Park Hye Soo, Jared Grimes, Oh Jeong Se, dan Kim Min Ho. Yap D.O aka Do Kyung Soo kudu jadi botak untuk perannya sebagai tentara Korea Utara di film ini. Mengambil setting tempat di camp tahanan Geoje selama perang Korea. Di sini kita bisa lihat ada yang Korea Utara (komunis), ada yang Korea Selatan, ada juga pihak Amerika. Masing-masing tokoh punya konflik batinnya masing-masing. Do Kyung Soo sebagai orang yang berada di kelompok komunis, jatuh cinta sama tap dance yang jelas-jelas milik orang Amerika. Ada juga Park Hye Soo cewe dari Korea Selatan yang kerja ama grup nyanyi nari buat menghibur para tentara yang pada akhirnya ikut gabung sama grup tap dance. Dia bisa berbagai macam bahasa dan maksa jadi translator buat si Jared Grimes, mantan penari di Broadway yang terpaksa jadi pengajar tap dance karena permintaan atasannya. Oh Jeong Se yang gabung grup tap dance gara-gara pengen nyari istrinya. Satu lagi Kim Min Ho, ceritanya dari Cina, emang suka nari tapi suka nyeri dada jadi gak bisa lama-lama hahahaha. Bingung sebenarnya kalau mau menyebut satu orang saja sebagai pemeran utama karena masing-masing karakter tadi punya cerita dan kekuatannya masing. Kamu bisa jatuh cinta sama peran-peran mereka.

Oh ya selain Jared Grimes yang memang tap dancer, artis-artis lain baru belajar tap dance pas mau main film ini. Kamu harus lihat eksekusinya yang ciamik sekali di film, mereka kelihatan kayak sudah bertahun-tahun belajar tap dance. The sound of their shoes dup tap tap dup dupdup taptap durudup...di mix sama lagu dan sound effect yang pas banget, menambah "kemewahan" film ini. Kamu bisa merasakan passion mereka dalam menari di setiap gerakan dan scene yang walaupun hanya menampilkan bagian kaki pemerannya.

Filmnya mulai jadi agak gelap setelah pertengahan film. Di situ mulai ada adegan yang rasanya agak lambat dan bisa di"cut" untuk mempersingkat durasi. Kenapa film ini jadi berdurasi 2 jam 13 menit, mungkin juga karena banyak sekali karakter di film ini dan semua karakter tersebut kayak harus dapet porsi waktu yang cukup gitu untuk bisa membangun cerita dan keterkaitan dengan karakter lain. Yap lagian kalau sudah konsentrasi sama ceritanya durasi segitu gak berasa kok.

Pujian tentunya jatuh di scene penampilan grup tap dance itu di malam natal. Sangat bagus, well executed! Mulai dari pilihan lagu, kostum, panggung kecil tapi cantik banget, dan yah......adegan terakhir yang BOOM! sangat membekas dan membuat berpikir orang-orang ini sempat berpikir gak yah kalau no future in that place sebenarnya. Miris...Kasihan bahwa pada saat itu ideologi yang berbeda memicu peperangan dan harus ada orang-orang yang gak tau apa-apa mati di antaranya.

Walaupun skor imdbnya hanya 7.5, gw rasa film ini layak kamu tonton apalagi kalau kamu mengaku penggemar EXO, khususnya D.O. Di film ini kamu bisa lihat bagaimana hebatnya seorang D.O berakting memerankan peran yang jauh beda dengan peran-peran yang pernah dia lakoni sebelumnya. Di satu scene bisa jadi sangat lucu, di scene lain kamu bisa merasa seram dan deg-degan, di scene lain kamu bisa mewek habis-habisan. Buat kamu yang suka nonton film dance dan teater dengan lagu-lagu yang familiar sebagai background musiknya, kamu juga bisa menikmati film Swing Kids ini. Start streaming guys!

Monday, July 8, 2019

Review: Parasite Movie - Black Comedy?

Poster film Parasite ini sudah mulai bertaburan di timeline Instagram gw sejak 2 bulan lalu. Pada akhirnya tayang juga di bioskop CGV. Setelah menimbang-nimbang mau nonton ini apa Toy Story 4, akhirnya pilih Parasite deh.

Film Parasite yang disutradarai oleh Bong Joon Ho ini dapat penghargaan tertinggi Palme d'Or di Festival Film Cannes tahun ini. Bahkan katanya mendapatkan standing ovation yang lama dari para penonton di sana. Secara film terakhir dari sutradara ini yang gw tonton adalah Okja, juga punya cerita yang bizzare, jadi gw sedikit mengantisipasi cerita (takut gak ngerti) dengan cara nonton dulu trailernya. Setelah nonton trailer, ternyata gw makin bingung dan sama sekali gak bisa membayangkan ini film ceritanya bakalan seperti apa. Intinya ada keluarga miskin, yang kemudian anaknya kerja di tempat keluarga kaya. Kalau dilihat dari poster filmnya, gw membayangkan akan menonton film horor-thriller, sesuai dengan tone trailernya yang gelap-gelap gitu. Jadi gw membayangkan, oooh palingan nanti ini ceritanya si keluarga kaya ini psikopat gitu terus ngebunuh-bunuhin orang yang kerja di rumahnya (kebanyakan cerita horor-thriller kan begini yah). Bisa juga sesuai judulnya "parasite" mungkin ternyata orang-orang di rumah itu bukan manusia, melainkan alien yang jadi parasit di tubuh manusia, wkwkwk, yah ide-ide standar yang muncul dari hasil menonton film-film fiksi lain.

Dan ternyata gak begitu ceritanya saudara-saudara.....Di sepanjang film gw udah berjaga-jaga ada scene-scene ngagetin yang tiba-tiba ada alien muncul, adegan bacok-bacokan, atau palingan gak hantu-hantu gitu, ternyata gak ada wwkwkkwk. Yang ada malah gw ketawa dan terkagum-kagum dengan betapa mulusnya tokoh-tokoh di keluarga miskin itu menipu keluarga kaya untuk bisa kerja di sana. Keluarga miskin di film ini diceritakan tinggal di apartemen basement, di lingkungan yang bisa dibilang kumuh. Kamar basement begitu di  Korea merupakan salah satu yang paling murah, yang istilahnya kalau orang punya duit gak mungkin mau tinggal di situ. Si bapak pengangguran, si ibu mantan atlet juga sekarang pengangguran, anak pertama pengangguran, anak kedua juga pengangguran. Mereka dapat duit cuman dari kerja lepasan kaya misalnya lipat-lipat kardus pizza. Makan juga boleh numpang-numpang di kantin karyawan biar gratisan. Buat dapat mobile data mesti jongkok sampai ke wc biar bisa nyolong sinyal wifi dari tetangga.

Awalnya kita bisa ketawa-ketawa dan senyum-senyum ngeliat tingkah mereka yang kocak dan betapa cerdiknya mereka bisa membuat si keluarga kaya percaya kalau si kakak adalah guru bahasa inggris lulusan salah satu universitas ternama, si adik adalah guru lukis dan art therapist, si bapak adalah sopir veteran, dan si ibu yang pada akhirnya bekerja jadi asisten rumah tangga di keluarga kaya tersebut setelah dengan cara "tidak terpuji" menggusur posisi asisten sebelumnya yang udah kerja berpuluh-puluh tahun di rumah itu. Tapi lama kelamaan gw merasa ngenes juga. Film ini menampilkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Bahwa orang-orang miskin itu sebenarnya punya kemampuan, tapi entah kenapa yah menetap di rantai kemiskinan itu. Mereka yang miskin sulit atau bahkan gak bisa punya pendidikan tinggi, ketika gak punya pendidikan tinggi, gak ada yang mau mempekerjakan mereka dengan bayaran yang layak. Tapi ketika lu punya ijazah (walaupun palsu), orang-orang tiba-tiba jadi menghargai lu karena dianggap sebagai orang yang berpendidikan.

Di balik kenikmatan yang keluarga miskin ini rasakan saat bekerja di keluarga kaya, mereka jadi kepengen juga untuk bisa tinggal dan punya di rumah besar itu suatu hari nanti. Gak salah sih, toh nyatanya sekarang kan mereka juga lagi "tinggal" di rumah itu, walaupun caranya salah dengan "nipu". Di sini masing-masing tokoh jadi kayak punya kegalauan gitu, tapi yang paling jelas ada di tokoh si bapak, yakni saat orang kaya bilang kalau dia punya "bau" yang gak enak, bau orang-orang yang banyak di kereta bawah tanah, yah sebut aja bau orang miskin. Di situ gw nangkepnya sih dia kayak mulai merasa direndahkan, dendam, iri dengan yang kaya, kesal, apa yah...pokoknya campur-campur gitu. Di rumah itu pula mereka ketemu suatu rahasia yang yah.....gak terpikirkan lah, tapi nyata adanya dan sudah pernah liat beberapa kali sih khususnya di 9gag hahaha.

Menit-menit terakhir film yang mulai bikin kita mikir saat nonton. Agak kurang mendebarkan dan greget sedikit sih sebenarnya menurut gw. Tapi sinematografinya mantap, adegan-adegan slow motion yang lebay itu menambah nilai di film ini. Selipan-selipan komedi di antara adegan-adegan yang seharusnya sedih juga "aneh" tapi bagus. Singkat kata, nonton saja lah di bioskop. Gak rugi kok filmnya lama 2 jam-an, mumpung ada promo gopay dan BNI tapcash tuh di CGV. Akting seluruh pemerannya gak perlu diragukan lagi, sinematografi bagus, tema cerita gak wajar, lu pulang dari bioskop bawa kesan dan pesan yang berbeda-beda. Film yang sangat wajib ditonton!

Sunday, April 14, 2019

Alasan Kenapa Kamu Harus Nonton Drama Beautiful World

Belakangan ini berita di berbagai media lagi diramaikan dengan kasus bullying siswi bernama Audrey. Baru deh mulai rame dibahas tentang masalah bully membully ini yang praktiknya sih sudah ada dari sejak jamah dahulu kala, tapi biasa baru muncul ke permukaan kalau ada korban yang masuk rumah sakit atau sampai meninggal dunia. Nah, pas banget nih di viu lagi tayang drama baru judulnya "Beautiful world" yang mengangkat tema yang sama. 

Apa itu bullying? Berdasarkan American Psychological Asssociation, bullying adalah perilaku agresif seseorang dengan sengaja terhadap orang laing yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau trauma (fisik dan psikologis) pada korbannya. Bentuk bullying bisa berupa kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Bullying adalah tindakan yang salah, yang jelas menyalahi hukum, menyalahi juga nilai agama dan nilai-nilai lain. Gw meyakini gak ada satu manusia pun yang lebih berhak terhadap hidup manusia lainnya. Memukul, menganiaya, menginjak, menendang apapun itu bentuk kekerasannya adalah salah. Ngata2in atau meledek bentuk fisik yang sampe bikin orang lain tertekan secara psikologis, apapun itu bisa termasuk ke dalam kekerasan verbal.

(SPOILER ALERT!) Drama Beautiful World ini baru tayang 4 episode. Diawali dengan cerita salah seorang murid SMA (Park Moo Jin) terjun dari rooftop gedung sekolahnya. Mati enggak, hidup pun enggak (karena jadi koma di ICU). Murid ini baek banget, perhatian sama teman-temannya, ganteng pula, walaupun secara akademis biasa saja. Mama papanya sayang banget sama anak ini (yaiyalah yah), adiknya juga. Papanya kerja sebagai guru SMA, sedangkan mamanya punya bakery. Yah hidup cukup lah, bukan yang tajir banget gimana gitu. Dari segala sisi pun sejauh 4 episode ini gw belum menemukan apa yang memicu nih anak di bully selain dari otak temen-temennya aja yang kriminal (mungkin belum diceritakan). Pelaku bullying siswa ini adalah teman-teman dekatnya sendiri. Mereka membentuk kelompok yang disebut Avengers dan masing-masing teman yang mengeroyok itu punya nama peran masing-masing. Orang tua anak-anak ini semuanya saling kenal.

Jadi suatu hari mereka ngerekam mereka ngegebukin Park Moo Jin. Yang ngerekam itu bahkan anak ketua yayasan sekolahan (tajir, ganteng juga wkwk). Yang 3 lagi temen-temen baeknya, bergiliran nendangin mukulin Moo Jin. Gak sekalipun Moo Jin ngelawan walaupun sebenernya bisa aja kalau dia mau. Yah seperti halnya kebanyakan korban bullying Moo Jin ini gak sekalipun pernah cerita ke orang tua atau saudaranya atau wali kelas atau guru-gurunya yang lain. Walaupun sudah pernah dipergoki bajunya kok kotor penuh tanah, sama mukanya kok bonyok. Tapi yah dengan satu dua kalimat bohong untuk menutupi kejadian itu dianggap asal lalu. Gw cukup yakin sebenarnya guru atau teman-teman lain di sekolahnya juga tau akan kejadian itu, tapi yah gitu nutup-nutupin, karena orang gak mau ngerepotin diri ngurusin bagian ini dari hidup orang lain (padahal klo gosipin pacar barunya si a, mobil barunya si b, paling cepet dah orang-orang). 

Yang lebih gila lagi, orang tua para pelaku nih sebenarnya udah pada tau (gara-gara liat video di hp salah satu anak) kalau anak-anak mereka ngebully temennya itu yang notabene anaknya teman baik mereka juga. Crazy? Yah coba aja lu di posisi mereka sebagai ortu yang anaknya pelaku kekerasan, yang walaupun masih di usia sekolah yang tetap aja bisa kena sanksi, minimal di dropout dari sekolah, kerja sosial wajib, catatan kriminal yang gak bisa diapus di surat polisi, dan sanksi sanksi sosial lainnya yang bakalan mereka terima. Kira-kira bakal berusaha menutupi atau lu kucluk-kucluk nyuruh anak lu mengakui semua kesalahannya? Beberapa pelaku diceritakan ada yang mulai takut dan mulai saling ngejatuhin satu sama lain. Mulai kayak anak ayam semua gitu pas uda mulai gak bisa lari lagi dari bukti-bukti yang mulai bermunculan satu persatu. Pas mukulin rame-rame lagaknya kayak penguasa, dipikir ortu gw kaya kok, gw masuk penjara juga gak ada sehari ortu gw bisa bayar kasih gw keluar. Eaaa pret. Gw kasihan sih liatnya, they said it's just for fun. Kasihan kan orang kaya tapi memperoleh kesenangannya dari hal-hal menindas orang lain. Mau having fun tuh ya jalan-jalan ke luar negri, makan enak, olahraga, ke mars gitu sekalian. Ini loh mau bikin mati anak orang, situ Tuhan? Yang ngatur hidup mati orang lain?

Kalau kamu lagi butuh tontonan yang agak berat, yang mengiris-ngiris hati, sambil sedikit-sedikit mengumpat karena gemas lihat anak-anak dan kelakuan orang tua pelaku, pihak sekolah, dan polisi/ penegak hukum yang kayak undur-undur. Ditambah lagi kita bisa lihat bahwa orang tua di film tersebut mengharapkan dan mempercayakan anaknya sepenuhnya di sekolah, tapi lupa bahwa edukasi yang pertama dan utama adalah dimulai dari rumah / keluarga. Orang tua memberikan contoh yang tidak baik bagi anaknya, segala sesuatu bisa diatur sama uang, kalau anak-anak buat salah yah gak papa gak perlu dihukup, yang penting gak diulangin lagi. Bahkan salah satu orang tua pelaku pun mulai seperti tidak mengenali anaknya lagi, dia mulai ragu anaknya ini baik atau enggak sih, karena beberapa kali melihat anaknya memanipulasi temannya. Boleh deh ditonton ini drama seri, sekali-kali nonton yang agak berbobot sendiri. Silahkan berikan penilaian sendiri, apa mungkin ada kejadian seperti ini di sekitar kita selama ini? Atau ah cuman drama aja lah lebay. Yah monggo tonton saja dulu. Episode baru setiap hari Sabtu dan Minggu di aplikasi Viu.

Friday, January 30, 2015

PK: Wrong Number


Lagi-lagi Bollywood ngeluarin film bagus. Film drama komedi yang mengangkat tema agama. Kalau belum liat trailernya (macem gue) pasti gak tau kalau nih film tentang agama pada awalnya. Idenya luar biasa. Kalau di sini film dengan tema agama, paling sering adalah cinta beda agama. Yang satu pasangannya muslim yang satu kristen. Dan begitulah konfliknya, yah seputar-putar itulah. Di awalnya konflik ini juga muncul, tapi.....jangan pikir bakal berhenti di situ aja, penonton diajak lebih jauh mengenal apa yang ada di balik semua agama, yaitu Tuhan. Ya, Tuhan kita semua. Gue yakin film ini seharusnya bisa membuka pikiran sebagian orang yang terkadang egois atau terlalu merasa benar dengan suatu ajaran sehingga melupakan inti yang terpenting dari ajaran-ajaran tersebut.

Spoiler:
Intinya yang lebih diangkat adalah mengenai pemuka agama yang seringkali mengarahkan kita bukan kepada Tuhan tapi kepada "Tuhan". Diceritakan di India sana ada seorang pemuka agama terkenal bernama Tapaswi. Ia hidup berkelimpahan di dalam kuil yang disebutnya sebagai rumah Tuhan, yang dibangun dari uang orang-orang yang datang berdoa di sana. PK, tiba-tiba merasa ada yang salah....begini dialog subtitlenya.

PK: Aku mengerti sekarang. Aku tahu seluruh rencananya. Tuan Tapaswi memanggil Tuhan, dia mengutip doa dan apapun itu, tapi semua panggilannya "salah sambung". Orang yang menjawab panggilannya juga sedang mempermainkannya. Kalau tidak bagaimana dia bisa mendapat remot kontrolku dari Dewa Siwa? Itu semacam.....mereka yang berbicara dengan Tuhan di dunia ini telah mengacaukan jaringan telekomunikasi. Semua panggilan jadi salah sambung. Aku berpikir...Kenapa Tuhan tak menjawab masalahku? Katanya (pemuka agama) untuk datang ke rumah-Nya harus berguling. Katakan..kita semua ini anak-anak Tuhan kan? Lalu ayah mana yang akan bilang pada anaknya: "Bergulinglah padaku dan semuanya akan beres." Pernahkah ayahmu bilang begini? "Nak bergulinglah padaku jika kau mau baju baru." Untuk apa menyiram susu pada batu dan memujanya?
Jaggu: PK, jika panggilannya benar, maka apa yang akan Tuhan katakan?

PK: Dia akan bilang, "Setiap hari jutaan anak jalanan kelaparan di Delhi. Biarkan mereka yang meminum susunya. Bagaimana mungkin aku yang minum?"

Spoiler tingkat dua:
Adegan paling klimaks adalah saat mereka talkshow PK vs Tapaswi. Plok plok plok men. Saya tulis yaa, biar kalau suatu hari gue buka- buka blog ini, gue bisa baca lagi hal bagus ini.

Tapaswi: Adakah dunia yang tidak punya Tuhan? Kenapa kau mati-matian ingin melukai perasaan orang lain? Ada yang tak punya makanan. Ada yang tak punya tempat tinggal. Mereka semua bahkan tidak punya tempat untuk berbincang. Setiap hari, berapa banyak orang yang bunuh diri? Kau tahu? Mengiris pergelangan tangan, gantung diri....kenapa? Karena mereka tak punya harapan. Jika ada Tuhan, yang menaruh tikka di dahinya, menaruh benang di tangannya, dan memberi mereka harapan untuk hidup, lalu mengapa kau menghapus harapan mereka? Dan jika kau sungguh ingin merenggut Tuhan dari hidup masyarakat, katakan, kau akan memberi mereka apa? Kau selalu bilang salah sambung, salah sambung, ya kan? Jadi sekarang katakanlah di sini, apa yang benar?

PK: Kau benar sekali Tuan Tapaswi. Ada satu masa ketika aku juga tidak bisa mendapatkan makanan. Aku tak punya tempat tinggal. Aku selalu menangis. Aku bahkan tidak punya teman. Aku hanya punya satu hal, Tuhan. Setiap hari aku berpikir, esok akan lebih baik. Tuhan akan memberiku jalan keluar. Aku sepakat. Bahwa dengan percaya Tuhan, seseorang punya harapan. Tapi, aku punya satu pertanyaan. Tuhan mana yang harus kupercayai? Kau selalu bilang bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurutku tidak. Ada 2 Tuhan. Pertama, yang menciptakan kita semua. Dan yang kedua, yang diciptakan oleh orang sepertimu. Kita tak pernah tahu tentang Tuhan yang menciptakan kita. Tapi, Tuhan yang kau ciptakan itu, sama sepertimu, pembohong, suka berpura-pura, memberi harapan palsu. Menghormati orang kaya, mengabaikan rakyat miskin. Bahagia saat dipuji. Orang-orang takut bersuara. Pesanku sederhana. Tuhan yang menciptakan kita semua, percayalah pada-Nya. Dan Tuhan yang kau ciptakan, si kembaran itu, musnahkanlah. 

Tapaswi: Kau berbicara soal Tuhan kami dan menurutmu aku akan diam saja? Nak, kami akan melindungi Tuhan kami.

PK: Kau bisa melindungi Tuhan? Kau? Haha...dunia ini sangat kecil. Dunia ini sangat kecil dibandingkan alam semesta. Dan kau dengan duduk di dunia kecil ini, tempat ini, jalanan ini, mengatakan kalau kau ingin melindungi Tuhan yang menciptakan alam semesta? Dia tak butuh perlindungamu. Dia bisa melindungi diri-Nya sendiri. Hari ini salah satu temanku tewas karena berusaha membantuku. Hanya sepatunya yang tersisa. Berhentilah berpura-pura membela Tuhan. Atau di dunia ini....semua orang hanya akan tinggal sepatunya saja. 

Tapaswi: Seorang muslim meledakkan bom dan seorang pemuka agama hindu sedang duduk di sini mendengarkan pidatomu.

PK: Siapa hindu dan siapa yang muslim? Mana tandanya? Tunjukkan padaku. Perbedaan ini diciptakan oleh kalian, bukan Tuhan. Dan ini....adalah salah sambung paling berbahaya di dunia ini. Paling berbahaya.

So.........mari kita merenungkan hal ini masing-masing.
Bravo buat yang bikin film!

Sunday, August 10, 2014

Your LOVE is RELENTLESS

Praising God could be this awesome!

Oh ya cerita-cerita sedikit tentang sebuah film yang belum lama ini gue nonton dvdnya (minjem pula). Heaven is for real. Sebuah film yang diangkat dari sebuah novel based on true story. Sebuah kisah mengenai seorang anak kecil yang mampir ke surga. Cerita drama. Klasik. Membicarakan mengenai surga, yang untuk sebagian besar orang dianggap sebagai suatu konsep untuk "memancing" orang berbuat baik. Lo buat baik lo masuk surga. Lo buat jahat lo masuk neraka. 

Dikisahkan keluarga dari Todd Burpo, seorang pemadam kebakaran sekaligus seorang pendeta yang disukai oleh jemaatnya. Ekonomi keluarganya pas-pasan karena pekerjaan yang gak jelas. Dia punya anak namanya Colton, masih bocah umur 5 tahun. Nah si Colton ini yang ceritanya melihat surga. Waktu itu dia lagi dioperasi dan dia melihat tubuhnya sendiri yang lagi dioperasi dokter. Lalu dia ketemu malaikat-malaikat dan juga Yesus, yang mengajak dia ke surga. Di sana dia ketemu kakeknya dan juga saudara perempuan (yang sebelumnya belum pernah dia liat selama dia hidup). Dia bilang di sana semua orang bahagia, di sana semuanya sangat berwarna, bahkan kudanya Yesus warna-warni. Waktu Colton cerita dia liat malaikat ke Todd Burpo, bapaknya itu cuman ketawa, dia pikir anaknya ngelindur, tapi waktu dia mulai cerita kalau dia liat waktu dia dioperasi bapaknya lagi marah2 sama tuhan, mamanya lagi nelpon orang-orang, si Todd Burpo mulai agak ngeh sama ceritanya Colton. Belum lagi dia mendeskripsikan orang-orang yang dia temui dengan tepat. Bapaknya yang awalnya gak percaya jadi mulai percaya sama anaknya. Dan mulai mengerti dia dengan apa sih yang sebenernya anaknya mau sampein itu. Mungkin gak semua dari kita pernah ngerasain kayak Colton, a glimpse of heaven, the real one, tapi....

"He's making a difference. Haven't we already had a glimpse of something? The first cry of a baby, the courage of a friend, the love of a mother, a father. I see it, so I believe it."

Kita udah banyak ngerasain sebagian dari apa yang dinamakan surga. Dia hadir sebagai kasih. Di bumi seperti di surga. 

Sunday, December 15, 2013

i see fire

gak nahan pengen ngepost video lagu ini di sini
lagu ini muncul di credit akhir film The Hobbit: Desolation of The Smaug
film yang bagus
diakhiri dengan lagu yang bikin orang pengen cari tahu judulnya (menandakan kalau lagunya bagus)
monggo....menurut saya ini adalah film yang perlu ditonton
settingnya menawan hati dan scenenya padat..jadi gak ngebosenin

Sunday, September 30, 2012

Tangled

pagi ini di kosan, sebelum dijemput pulang
gw sempet nonton film Tangled di tv
salah satu film animasi yang layak sekali ditonton
semua unsur yang dibutuhkan sebuah film sepertinya berhasil disediakan oleh film ini
sudah begitu dilengkapi pula dengan lagu-lagu bagus sekali

Flower, gleam and glow
Let your power shine
Make the clock reverse
Bring back what once was mine

Heal what has been hurt
Change the fate's design
Save what has been lost
Bring back what once was mine

What once was mine

dan yang di atas ini yah, scene yang ngaduk-ngaduk perasaan hahaha....mewek
biasalah cewek namanya juga

Terus yang ini ada short clip lanjutannya. KOCAK ABIS

Sunday, April 29, 2012

pars pro toto

mari mereview sebagian hal yang sudah terjadi dalam minggu-minggu terakhir ini 

wisuda...dan ikut senang karena dia 3 besar meeen 3 besar ckckck

menghabiskan akhir pekan dengan menonton film Modus Anomali. Film yang bagus, tapi bukan favorit gw sih. Lebih suka ama The Raid yang gw tonton minggu lalu. Efeknya agak kurang gimana gitu, kurang total mungkin. Tapi sejenak film ini mampu membuat gw tidak menyukai Rio Dewanto, memaki dia "GILA" hahaha..tapi abis itu suka lagi

Tak pernah kuragu akan kesetiaanmu
Kau pegang hidupku


 mencoba Red Velvet di Harvest, saya masih gak ngerti ama rasanya sih haha, tapi suka ama warnanya, dan berhubung gw suka sekali ama cream cheese di tempat ini, yah...bolehlah

sekian dulu postingan hari ini, ada beberapa obrolan serius yang sebenernya pengen sekali gw omongin, di mana kapan sama siapa, itu masih bingung haha
dan masih banyak sekali pekerjaan yang tertunda
tapi sangat senang karena akan segera berlibur....yeiiiiiiiiiy mengunjungi tempat-tempat baru
semoga minggu ini lancar-lancar saja segala sesuatunya. amin

Sunday, April 22, 2012

Apalah Arti Menunggu

bukan...post ini bukan tentang lagunya Raisa yah.
gw cuman mau nulis aja soal arti kata menunggu
bagi sebagian orang, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, dulu gw juga berpikir hal yang sama.
tapi, sekarang beda, menunggu pun bisa jadi menyenangkan (terima kasih 9gag, tumblr, dan yang jelas internet)
sebelumnya, kita baca dulu yuk beberapa arti kata "menunggu"

dalam sebuah website, yaitu artikata.com, ada 5 arti kata "menunggu", antara lain sebagai berikut:
1. tinggal beberapa saat di suatu tempat dan mengharap sesuatu akan terjadi.
2. tinggal sementara untuk merawat dan menjaga
3. menantikan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi)
4. mengharap
5. mendiami, menghuni

lihat, betapa satu kata dalam bahasa Indonesia ini punya berbagai makna
semua tergantung siapa yang mengucapkan dan kepada siapa kata ini diucapkan
kapan kata ini diucap, di dalam kalimat apa kata ini tersisipkan
di sengaja atau tidak
kata "menunggu" bisa menimbulkan pergeseran arti, jadi tidak bisa sembarangan dimasukkan untuk bersisian dengan kata-kata lain.
kita praktik yah...

1. "Rini menunggu hari kelahiran anak pertamanya." di sini arti kata menunggu = menantikan sesuatu yang mesti datang atau terjadi. tapi coba kalau gw ganti sedikit yah. "Rini menunggu hari kelahiran anak anjing tetangganya di kampung." sama-sama menantikan sesuatu yang mesti datang atau terjadi. si anjing pasti bakalan beranak, tapi apa perlunya meeeen rini nungguin kelahirannya. apa kepentingannya si rini? yah tapi kalau mau liat sisi positifnya, siapa tau anak anjing yang bakalan lahir ini bokernya emas, jadi Rini nunggu waktu buat nyolong nih anjing. tapi tetep aja, aneh.

2. "Aku terduduk di pinggir jendela, menunggu bintang jatuh." oke, di sini arti kata menunggu adalah mengharap, secara bintang jatuh kan bukan sesuatu yang mesti terjadi. tapi coba deh kalau diganti begini, "Aku terduduk di pinggir jendela menunggu bintang jatuh meluluh lantakkan semua makhluk yang ada di bumi." okee...waham

emm....dua aja deh contohnya, males bikin yang lain. lagian yang baca pasti pada lebih pinter dari gw. silahkan dipikirkan sendiri contoh-contoh lainnya.
pokoknya menunggu itu sebaiknya jangan sembarang diucap yah.
menurut gw sendiri, pekerjaan menunggu itu tidak mudah, butuh dedikasi, kesabaran, dan komitmen (apa coba).

bisakah kamu duduk diam di suatu tempat di samping tempat pemotongan ikan dan babi, sementara ibumu menyuruh kamu menunggunya berbelanja di pasar?
benar-benar duduk satu tempat itu, tidak pergi dan berpaling ke tempat-tempat lainnya, tidak mampir ke tukang bakso, tidak pula pergi nyicip-nyicip jajanan pasar. bisa?
karena kalau memang benar menunggu, artinya kita harus siap untuk selalu menunggu, setia pada satu hal yang kita tunggu, sampai suatu saat hal itu akan datang.
tapi entah kapan...tunggu saja, namanya juga menunggu, kalau sudah tau waktunya...apa serunya?

cukup sekian deh tentang menunggu.
o ya tadi abis nonton film The Raid
film yang berhasil menurut gw, karena sukses membuat gw kepingin menjadi seperti pemeran utamanya, yaitu Iko Uwais, jago pencak silat (hahahaha)
dan terima kasih karena telah menyertakan Dony Alamsyah di dalamnya (y)

Wednesday, March 7, 2012

Sunday, September 4, 2011

Menghargai Hidup

baru saja menonton film Ocean Heaven yang dibintangi oleh Jet Li
di awal film ini diceritakan Jet Li mau bunuh diri karena penyakitnya
untung pada akhirnya usaha bunuh dirinya itu gak berhasil
mmm...gw agak bingung dan penasaran
kenapa sih seseorang sampai bunuh diri?
kalau di cerita ini sih, dia punya seorang anak yang autis
nah trusnya dia mau bunuh diri bareng anakya karena dia takut anaknya enggak bisa hidup sendiri tanpa dia
padahal yah kalau dipikir-pikir, dia (Jet Li) masih punya waktu kok
dia sendiri kan juga gak tahu dia bakal matinya kapan
walaupun dokter udah diagnosis dia kanker hati stadium akhir
tapi kan namanya hidup mati, ya Tuhan yang menentukan
kalau buat gw sih, sebaiknya kita membahagiakan orang yang kita kasihi selagi kita mampu. selagi mereka masih ada
dan menurut gw semua orang berhak hidup
walaupun anaknya itu autis, dipandang tidak mampu untuk mengurusi dirinya sendiri
menurut gw Tuhan menciptakan setiap manusia itu hebat
kita ini kadang punya kekuatan yang kadang gak kita sadari begitu besarnya sehingga seberat apapun tantangan hidup yang ada, setiap manusia pasti bisa melaluinya
lagian menurut gw, alam ini diciptakan bukan hanya untuk dipelihara oleh manusia, namun juga untuk memelihara setiap manusia yang tinggal di dalamnya
tapi tetep gak menjawab yah, kenapa orang mau bunuh diri...hahaha
hanya mereka, pelaku-pelaku itu yang tahu
err...dan gw semakin bertanya-tanya, kenapa mereka mau mati?
tidak sadarkah mereka bahwa keberadaan mereka di bumi ini sungguh berarti?
tangan-tangan yang diciptakan, ada yang bisa menulis tulisan bagus, ada yang bisa melukis indah, ada yang bisa memulungi sampah-sampah di perumahan, ada yang bisa memijat, ada yang bisa melap jendela sampai mengkilat, semuanya ada fungsinya, masing-masing.
gak ada yang gak berharga. gak ada yang gak penting. semua berharga, semua penting, semua punya porsinya masing-masing.
ketika ada orang lain yang berkata bahwa dirimu tidak berharga, ingatlah bahwa ada pribadi yang selalu menganggapmu ada, yaitu Sang Pencipta.
Dia pasti punya alasan untuk menciptakan kamu ada di sini.

bagi yang mau nonton filmnya
sebenernya film ini bukan ceritain tentang orang yang mau bunuh diri atau gimana
tapi lebih ke bagaimana jet li ngabisin hari-harinya sama anaknya
pada endingnya ada part tentang istrinya jet li yang gw gak ngerti
huaaaa T_T
entar gw tanya ama yang lebih ngerti deh

" One day at a time, this is enough. Do not look back and grieve over the past for it is fone, and do not be troubled about the future, for it has not yet come. Live in the present, and make it so beautiful it will be worth remembering." (sumber thinkexist.com)

Thursday, August 11, 2011

Monday, August 8, 2011

Bincang-Bincang Singkat

"Gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang..." Sebelah Mata - Efek Rumah Kaca

Oh ya tadi juga ngobrol sebentar ama nyokap
obrolan-obrolan gak penting emang
tapi cukuplah untuk mengurangi rindu
setidaknya masih bisa lihat nyokap, udah seneng
obrolannya tuh gak penting banget sumpah

gw: mi eke potong rambut jadi kyak john napid
mami: jadi kayak orang bego
(gubrak)

mami: mami jalan-jalan mulu di sini, banyak makanan enak
bokap: lo udah naek 20 kg ya? udah kayak babi
(anyir)

mami: waktu itu mami udah mampir ke warung m*m*k
(muoncrot)

masih ada lagi sih yang diomongin tapi bener2 gak ada tuh nanyain kabar begimana
udah keliatan sih di gambar nyokap gw makin besar, artinya dia sehat-sehat aja
dia bercerita dengan semangat bagaimana adek gw udah bisa nyuci kolor dan beha sendiri
cacat gak sih

nyokap sekarang gaulan bisa webcaman (ade gw sih yang ngituin), walaupun dia jadi terlihat besar sekali, hampir mengisi seluruh frame, jadi terlihat sempit


bosaaan...jadi gw menulis, bukan-bukan, nyoret-nyoret doang, gak bermakna nih

Saya bukan yang terhebat ya memang bukan
Jangan membanding-bandingkan
Karena itu bukannya memicu saya untuk jadi lebih
melainkan menjadikan saya malas berkompetisi
Silahkan puji orang lain setinggi-tingginya
dan kritik saya sepedas-pedasnya
Tapi tolong jangan banding-bandingkan saya dengan dia

Thursday, July 28, 2011

Good Time

yap membunuh waktu dengan menonton film, apalagi filmnya bagus, itu sungguh sangat menyenangkan
kemarin ini gw nonton 2 film dalam sehari
yang pertama ada film Catatan Harian Si Boy
akhirnya nonton juga nih film
penasaran sih soalnya waktu itu liat interview sama pemainnya di salah satu tv swasta
dan kelihatannya meyakinkan dan menjanjikan
terutama di situ ada Poppy Sovia, salah satu aktris FTV dan film favorit gw, karena aktingnya boleh diadu lah
setelah nonton, ya memang film ini layak lah ditonton
cerita besarnya sih tentang persahabatan yang diselingi dengan konflik mencari Boim untuk datang menemui Nuke
banyak kata-kata bagusnya, misalnya (maap klo gak sama persis)
"Lo kan udah start, ya harus sampe finish dong" (Finish what you started)
masih banyak lagi, tapi gak afal soalnya kebanyakan dalam satu percakapan panjang gitu jadi mendingan tonton aja
apalagi di sini bertaburan mobil dan motor (y)
motor merahnya Andi boleh bener tuh, mobilnya Nina juga boleh tuh haha, ya klo gak motornya Herry juga boleh dah
pas lagi nonton itu gw denger satu lagu yang familiar banget di kuping gw
depannya ada melodi gitar, trus yang nyanyi cewe
rasanya akrab banget di telinga
hahaha...yah ternyata emang lagunya Mian Tiara yang Little Space in Between
jiah ini cd-nya aja ada di mobil...bleeh gw

malemnya di rumah nonton dvd August Rush
film lama memang
tapi prolognya aja bahkan sudah membuat gw terkesan

Listen...can you hear it?
The music. I can hear it everywhere, in the wind, in the air, in the light...
It's all around us.
All you have to do is open yourself up
- August Rush